MyInfo.ID – Penyebab ASI tidak keluar atau produksinya terasa sangat sedikit bisa membuat ibu menyusui khawatir, terlebih pada masa awal setelah melahirkan. Padahal, air susu ibu merupakan salah satu sumber nutrisi penting bagi bayi untuk mendukung proses tumbuh kembangnya.
Kondisi ini tidak selalu berarti tubuh ibu tidak mampu menghasilkan ASI. Ada sejumlah faktor yang bisa membuat produksi ASI menurun atau alirannya terasa kurang lancar, mulai dari pola makan, kondisi emosional, teknik menyusui, hingga faktor hormonal.
Karena itu, ibu sebaiknya tidak langsung panik ketika ASI belum keluar sesuai harapan. Mengenali penyebabnya menjadi langkah awal agar masalah bisa ditangani dengan tepat.
Penyebab ASI Tidak Keluar atau Produksinya Berkurang
Ada beberapa kondisi yang dapat memengaruhi produksi air susu ibu. Berikut sejumlah penyebab ASI tidak keluar yang perlu diperhatikan.
1. Menjalani diet terlalu ketat
Keinginan mengembalikan berat badan setelah melahirkan merupakan hal yang wajar. Namun, ibu sebaiknya tidak terburu-buru melakukan diet ekstrem ketika masih dalam masa menyusui.
Pembatasan makanan secara berlebihan dapat membuat kebutuhan nutrisi ibu tidak terpenuhi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi produksi ASI dan kualitas asupan yang diterima bayi.
2. Stres setelah melahirkan
Masa setelah persalinan bisa terasa melelahkan. Kurang tidur, perubahan hormon, aktivitas mengurus bayi, serta berbagai kekhawatiran baru dapat membuat ibu lebih mudah mengalami stres.
Stres menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu proses keluarnya air susu ibu. Kondisi emosional tersebut dapat memengaruhi kerja hormon yang berperan dalam produksi dan pengeluaran ASI.
3. Tubuh kekurangan cairan
Kebutuhan cairan ibu biasanya meningkat selama menyusui. Kurang minum dapat membuat tubuh mengalami dehidrasi dan berpotensi mengganggu kelancaran produksi ASI.
Karena itu, ibu menyusui perlu membiasakan diri minum secara cukup sepanjang hari. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
4. Pelekatan bayi kurang tepat
Teknik menyusui juga tidak kalah penting. Jika posisi dan pelekatan mulut bayi pada payudara kurang tepat, proses pengosongan payudara bisa menjadi tidak maksimal.
Padahal, semakin efektif payudara dikosongkan saat menyusui, tubuh mendapat rangsangan untuk kembali memproduksi ASI. Karena itu, posisi bayi dan cara pelekatan perlu diperhatikan.
5. Terlalu sering memberikan susu formula
Ketika ASI belum keluar dengan lancar, sebagian ibu mungkin langsung memberikan susu formula. Namun, berkurangnya frekuensi menyusui dapat membuat rangsangan pada payudara ikut berkurang.
Produksi ASI bekerja berdasarkan mekanisme kebutuhan. Semakin sering bayi menyusu, tubuh mendapat sinyal untuk mempertahankan produksi air susu ibu.
6. Kadar gula darah tinggi
Ibu dengan kadar gula darah tinggi atau diabetes dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun produksi ASI setelah melahirkan.
Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah adanya gangguan hormonal. Karena itu, kondisi kesehatan ibu sebelum dan setelah persalinan juga perlu diperhatikan ketika produksi ASI mengalami kendala.















