Bersedekah, berinfak, membantu sesama, membangun pendidikan, memakmurkan masjid, dan berbagai bentuk amal kebajikan merupakan manifestasi rasa syukur seorang hamba atas amanah yang diberikan kepadanya.
Menariknya, Allah juga memberikan batas waktu yang sangat jelas, yaitu “sebelum datang kematian.” Inilah timeline kehidupan yang tidak dapat dinegosiasikan. Selama ajal belum tiba, pintu amal masih terbuka. Namun ketika kematian datang, seluruh kesempatan itu tertutup untuk selamanya.
Pada saat itulah penyesalan muncul. Orang yang dahulu enggan bersedekah, menunda berbuat baik, atau terlalu sibuk mengejar dunia akan memohon agar diberi sedikit tambahan waktu untuk memperbaiki dirinya. Akan tetapi, permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan karena hukum Allah berlaku pasti: tidak ada satu jiwa pun yang dapat menunda ajalnya ketika waktunya telah tiba.
Kesadaran inilah yang semestinya membentuk cara pandang seorang mukmin terhadap waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Ia bergerak progresif menuju masa depan, sementara setiap detik yang berlalu berubah menjadi sejarah yang tidak mungkin diulang kembali.
Kesempatan yang hilang hari ini tidak akan pernah datang dengan bentuk yang sama pada hari esok. Oleh sebab itu, setiap detik kehidupan harus diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah dan kemanfaatan.
Membangun kesadaran injury time bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap kematian, melainkan hidup dengan penuh kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan yang sangat berharga. Selagi masih sehat, gunakan kesehatan untuk beribadah.
Selagi masih kuat, gunakan kekuatan untuk berkarya dan membantu sesama. Selagi masih memiliki waktu, gunakan waktu untuk menebarkan manfaat. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak amal, jangan menunggu kaya untuk bersedekah, dan jangan menunggu lapang untuk berbuat baik.
Salah satu penyakit yang paling berbahaya dalam kehidupan adalah kebiasaan menunda kebaikan. Menunda ibadah, menunda sedekah, menunda meminta maaf, menunda membantu orang lain, bahkan menunda memperbaiki diri.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah hari esok masih menjadi bagian dari jatah usianya. Karena itu, setiap kesempatan berbuat baik hendaknya segera diwujudkan sebelum kesempatan tersebut hilang.
Pada akhirnya, penyesalan terbesar manusia bukanlah karena pernah gagal dalam hidup, tetapi karena terlambat menyadari tujuan hidupnya. Kesadaran yang datang ketika waktu telah habis hanyalah penyesalan yang tidak lagi mampu mengubah keadaan.
Oleh sebab itu, marilah membangun kesadaran sejak hari ini. Jadikan Allah sebagai orientasi utama kehidupan, gunakan seluruh nikmat sebagai amanah, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan jangan pernah menunda melakukan kebaikan.
Sebab, orang yang bijaksana adalah mereka yang hidup seolah-olah setiap hari adalah kesempatan terakhir untuk memperbanyak amal, sehingga ketika panggilan Allah benar-benar datang, ia telah menyiapkan bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya.















