Inflasi Purwokerto dan Cilacap Melandai pada Juni 2026, Dipicu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: BI
banner 120x600

Di sisi lain, meningkatnya aktivitas masyarakat selama libur sekolah pada akhir Juni juga memicu kenaikan harga pada sektor rekreasi serta penyediaan makanan dan minuman.

Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan, seperti daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit seiring terjaganya pasokan serta berbagai upaya stabilisasi harga.

Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar

Berdasarkan kelompok pengeluaran, sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di Banyumas Raya.

Di Purwokerto, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 1,64 persen (mtm) dengan andil 0,20 persen. Disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang mengalami inflasi 0,95 persen dengan kontribusi 0,02 persen.

Sementara di Cilacap, kelompok transportasi mencatat inflasi 1,23 persen dengan andil 0,14 persen. Adapun kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 0,30 persen dengan kontribusi sebesar 0,03 persen.

Menurut BI, kenaikan harga BBM nonsubsidi mendorong naiknya biaya transportasi. Di saat yang sama, meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah ikut mendorong kenaikan harga di sektor restoran, rekreasi, olahraga, dan budaya.

Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat

Bank Indonesia menilai inflasi tahunan di Banyumas Raya tetap terkendali berkat konsistensi kebijakan moneter yang didukung sinergi bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Sejumlah program pengendalian inflasi terus dijalankan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), di antaranya penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM), Gempita Raya dalam ajang Karya Kreatif Serayu x Banyumas Digifest 2026, fasilitasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), penguatan komunikasi kepada masyarakat, pengembangan jaringan distribusi pangan melalui toko tani, hingga peningkatan koordinasi antaranggota TPID.

Ke depan, BI bersama TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

“Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi dalam kerangka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung inflasi tetap terkendali dalam sasaran target nasional,” demikian keterangan Bank Indonesia Purwokerto.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow