Health  

Hari Jamu ke-18 di UMP, Banyumas Didorong Jadi Pusat Industri Herbal Modern Berbasis Riset

Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) resmi menjadi tuan rumah kegiatan Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Pentahelix 2026. Foto: UMP
banner 120x600

Ketua Dewan Pembina PPJAI, Mukit Hendrayatno, S.T., menilai jamu memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimaksimalkan apabila anak muda ikut terlibat dalam pengembangannya.

“Jamu adalah produk bernilai tambah tinggi yang harus didorong oleh kaum muda. Jika tidak dilestarikan oleh para penerus, bukan tidak mungkin jamu hanya akan bergeser dari kekayaan alam menjadi sekadar cagar budaya,” ungkapnya.

Mukit menambahkan, inovasi pemasaran menjadi tantangan berikutnya agar produk jamu Indonesia mampu bersaing dengan produk kesehatan global.

Menurutnya, Indonesia perlu membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal sebagaimana negara-negara lain yang berhasil menjadikan produk dalam negerinya sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Sebagai institusi pendidikan, UMP menyatakan siap mendukung pengembangan industri jamu melalui penelitian dan inovasi akademik.

Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, yang diwakili Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama, Assoc. Prof. Saefurrohman, Ph.D., mengatakan kampus memiliki sumber daya yang mendukung pengembangan obat herbal.

“Dalam konsep pentahelix, peran UMP sangat krusial, terutama melalui Fakultas Kedokteran dengan keunggulan kedokteran herbal dan memiliki kebun herbal serta Fakultas Farmasi yang memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan obat herbal unggulan,” jelas Saefurrohman.

Ia menegaskan UMP membuka peluang kerja sama riset yang lebih luas guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk jamu Banyumas hingga pasar internasional.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Banyumas. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Banyumas, Amrin Ma’ruf, S.Sos., M.Si., menilai pengembangan industri jamu sangat sesuai dengan karakteristik daerah yang berbasis sektor pertanian.

“Banyumas lebih cocok dikembangkan melalui industri berbasis agro, dan jamu adalah salah satu pilar utamanya,” ujar Amrin.

Pemerintah daerah pun terus mendorong penguatan sektor herbal, salah satunya melalui program petani milenial yang kini turut mengembangkan budidaya tanaman obat.

Melalui kolaborasi lintas sektor dalam PPJAI Pentahelix 2026, jamu diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi industri kesehatan modern berbasis riset yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengangkat nama Banyumas di tingkat global.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow