“Peresmian ini bukan hanya tentang gedung, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, serta nilai keislaman dan kebangsaan,” katanya.
Sadewo juga menyebut peluncuran PKBM Muhammadiyah menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan nonformal, terutama bagi masyarakat yang belum terjangkau pendidikan formal.
Pemerintah Kabupaten Banyumas, lanjutnya, berkomitmen memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan yang layak tanpa terkecuali.
Dalam kesempatan yang sama, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak harus selalu identik dengan sekolah formal. Yang terpenting adalah proses belajar yang dapat diakses semua kalangan, termasuk melalui jalur pendidikan nonformal seperti PKBM.
“Kami ingin menghadirkan pendidikan yang bisa dijangkau semua kalangan, baik dari sisi akses, fleksibilitas waktu, maupun biaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masih banyak faktor yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan, mulai dari persoalan ekonomi, memilih bekerja di usia muda, pernikahan dini, hingga keterbatasan akses geografis.
Karena itu, kehadiran PKBM Muhammadiyah dinilai menjadi solusi konkret agar masyarakat tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
Dengan hadirnya Gedung Satria, padepokan Tapak Suci, serta PKBM Muhammadiyah, Ponpes Modern ZIIS diharapkan semakin berperan dalam membangun pendidikan berbasis karakter dan keterampilan hidup.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Banyumas melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.















