PURWOKERTO, MyInfo.ID – Festival Kentongan Banyumas mendapat angin segar. Pemerintah Kabupaten Banyumas berencana menjadikan festival seni tradisi tersebut sebagai agenda tahunan dengan penyelenggaraan yang semakin meriah.
Rencana itu menguat setelah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menyatakan kesiapannya menjadi sponsor utama Festival Kentongan setiap tahun.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono saat menghadiri Festival Kentongan 2026 dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman depan Alun-Alun Purwokerto, Sabtu (22/8/2026).
Sadewo hadir bersama Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti, Asisten Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Fenty Tirtasari Ekarina, sejumlah kepala OPD, serta tamu undangan lainnya.
Di hadapan masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-Alun Purwokerto, Sadewo menyampaikan apresiasi atas dukungan Bank Indonesia terhadap keberlangsungan seni tradisi Banyumas.
Menurutnya, dukungan tersebut membuka peluang Festival Kentongan Banyumas untuk dikembangkan menjadi pertunjukan budaya yang lebih besar dan menarik.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bank Indonesia yang telah berkomitmen akan menjadi sponsor utama Festival Kentongan setiap tahun,” ujar Sadewo.
Komitmen tersebut dinilai penting karena keberlangsungan sebuah festival budaya membutuhkan dukungan berbagai pihak. Dengan adanya dukungan pendanaan, penyelenggara memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kualitas pertunjukan dari tahun ke tahun.
Tak hanya menjadi sponsor, Bank Indonesia disebut akan mengambil porsi 50 persen dari kebutuhan anggaran penyelenggaraan Festival Kentongan.
Sementara kebutuhan dana lainnya akan dipenuhi melalui skema pembiayaan bersama.
“Dengan skema BI menanggung 50 persen dan sisa anggaran ditanggung bersama, gelaran budaya kita dipastikan bakal semakin meriah,” katanya.
Skema tersebut menjadi salah satu fondasi agar Festival Kentongan Banyumas tidak berhenti sebagai acara seremonial tahunan, tetapi dapat terus berkembang dari sisi konsep maupun penyelenggaraan.
Festival Kentongan 2026 diikuti 16 kelompok yang sebelumnya telah melewati proses seleksi Pakenmas atau Paguyuban Kentongan Banyumas.
Pertunjukan kentongan menjadi salah satu cara Pemkab Banyumas menjaga seni tradisi tetap hidup di tengah perkembangan hiburan modern.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan festival juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kesenian daerahnya secara langsung.
Sadewo menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan kesenian sebagai bagian dari sejarah. Seni tradisi harus tetap dimainkan, dipertontonkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Festival Kentongan tahun ini juga berlangsung bersamaan dengan momentum membanggakan bagi seni budaya Banyumas.
Sebanyak 125 penari asal Banyumas membawakan Tari Kelana Lengger di bawah pimpinan Rianto atau yang dikenal sebagai Lengger Lanang.
Mereka mendapat kesempatan tampil dalam Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Istana Negara.
Bagi Sadewo, penampilan tersebut menunjukkan bahwa kesenian Banyumas memiliki daya saing dan mampu mendapat tempat di panggung nasional.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi pelaku seni sekaligus generasi muda Banyumas untuk semakin mengenal budaya daerah.
“Kami ingin generasi muda Banyumas terus mengenali dan mencintai seni tradisinya sendiri. Budaya yang kita miliki saat ini harus terus hidup dan tidak boleh punah. Mari kita jaga bersamasama,” tambahnya.
Sadewo berharap dukungan terhadap kegiatan kebudayaan tidak hanya datang dari pemerintah. Keterlibatan dunia usaha, lembaga, komunitas, seniman, dan masyarakat diperlukan agar seni tradisi dapat terus berkembang.
Menurutnya, Festival Kentongan Banyumas bisa menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan kreativitas generasi baru.
Dengan dukungan Bank Indonesia sebagai sponsor utama, festival tersebut diharapkan memiliki keberlanjutan sekaligus kemasan yang semakin menarik.
Pada akhirnya, seni tradisi tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas yang hidup di tengah masyarakat Banyumas.
Selain mengajak masyarakat melestarikan budaya, Sadewo juga mengingatkan pengunjung untuk menjaga ketertiban selama Festival Kentongan berlangsung.
Masyarakat yang hadir diminta tidak membuang sampah sembarangan dan ikut menjaga kebersihan kawasan Alun-Alun Purwokerto.
“Diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan guna mempertahankan kebanggaan Purwokerto sebagai salah satu kota terbaik dalam pengelolaan sampah dan kebersihan,” jelasnya.















