Salsabila menilai pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dengan membangun sistem baru. Menurutnya, potensi yang telah tersedia di masyarakat dapat dioptimalkan melalui kolaborasi yang terarah.
“Indonesia does not need every community to build a new recycling system. It needs every community to know where its materials can go next,” ungkapnya.
Berangkat dari perspektif Sosiologi, Re menempatkan masyarakat sebagai penggerak utama keberlanjutan lingkungan. Keterlibatan perempuan, pemuda, perajin, pelaku usaha, dan mitra pengolahan juga diarahkan untuk membuka peluang peningkatan keterampilan serta kewirausahaan berbasis ekonomi sirkular.
Inovasi tersebut berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Program ini juga terkait dengan SDG 11 tentang kota berkelanjutan, SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 17 tentang kemitraan.
Bagi Unsoed, capaian Salsabila menunjukkan upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat. Keikutsertaan dalam GYIS 2026 juga membuka peluang pengembangan jejaring kolaborasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Salsabila berharap Re tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi bersama masyarakat.
“Sampah mungkin mengakhiri satu masa guna, tetapi tidak harus mengakhiri nilainya. Ketika kita mampu menghubungkan potensi, membangun kolaborasi, dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat, kita tidak sekadar mengelola sampah, kita sedang merancang masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.















