“Di antaranya melalui budidaya ternak puyuh oleh kelompok P4S serta pengembangan Pasar Amarta. Aktivitas ini menghasilkan limbah organik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan,” kata Agustiawan.
Dia menjelaskan, kondisi geografis Kutawaru menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat. Kelurahan tersebut terpisah dari pusat pemerintahan Kota Cilacap oleh perairan Bengawan Donan.
Kondisi itu menyebabkan akses warga terhadap sejumlah kebutuhan dasar, termasuk pengelolaan limbah, menghadapi berbagai keterbatasan. Persoalan tersebut terutama berkaitan dengan limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas peternakan dan pasar.
“Karena itu, dibutuhkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi bekal bagi masyarakat menghadapi tantangan di masa depan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas menjadi salah satu ikhtiar mengurangi timbulan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang dapat dikelola masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan pengolahan biogas tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan Kilang Cilacap terhadap pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB). Program itu juga sejalan dengan inisiatif Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS) yang digelar RU Cilacap dalam rangkaian Bulan Energi & Loss 2026.
Melalui penguatan kapasitas masyarakat, Pertamina mendorong warga Kutawaru agar semakin mampu mengelola potensi lokal secara mandiri. Limbah dari kandang puyuh dan aktivitas pasar yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan diarahkan menjadi bahan baku yang memiliki nilai guna.
Pengembangan energi alternatif berbasis potensi lokal tersebut juga mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDGs 1 tentang Tanpa Kemiskinan, SDGs 2 Tanpa Kelaparan, SDGs 4 Pendidikan Berkualitas, SDGs 7 Energi Bersih dan Terjangkau, SDGs 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur, serta SDGs 15 Ekosistem Daratan.















