UGM Turun ke Banyumas, Teknologi Baru Disiapkan untuk Dongkrak Mutu dan Ekspor Gula Semut

Fakultas Teknologi Pertanian UGM menghadirkan inovasi teknologi pengolahan gula semut di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Foto: Pemkab Banyumas
banner 120x600

BANYUMAS, MyInfo.ID – Permintaan gula semut Indonesia di pasar dunia terus meningkat. Namun, di balik tingginya peluang ekspor tersebut, para produsen di tingkat petani masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kualitas produk yang belum seragam hingga proses produksi yang masih bergantung pada metode tradisional.

Menjawab persoalan tersebut, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi teknologi pengolahan gula semut di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Melalui program pengabdian masyarakat berbasis riset, UGM memperkenalkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna untuk membantu meningkatkan kualitas sekaligus kapasitas produksi gula semut yang menjadi komoditas unggulan daerah.

Program bertajuk “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” digelar selama tiga hari, mulai 31 Mei hingga 2 Juni 2026, di Desa Pageraji.

Kegiatan tersebut diikuti puluhan petani penderes dari berbagai desa di Kecamatan Cilongok yang selama ini menjadi salah satu sentra produksi gula kelapa terbesar di Indonesia.

Ketua tim pelaksana kegiatan, Dr. Sri Rahayoe, mengatakan program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, koperasi petani, dan mitra internasional.

“Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO,” kata Dr. Sri, Selasa (1/6/2026).

Sri menjelaskan, program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan gula semut di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Produk berbahan dasar nira kelapa tersebut kini semakin diminati karena dianggap sebagai pemanis alami yang lebih praktis dan memiliki nilai tambah tinggi.

Selain mudah larut dan memiliki masa simpan lebih panjang, gula semut juga banyak digunakan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, hingga produk organik.

“Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia,” kata Sri.

Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir gula kelapa terbesar di dunia.

Di antara berbagai daerah penghasil gula semut, Banyumas memegang peran penting dalam rantai pasok nasional.

“Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas,” ucapnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow