Data Pemerintah Kabupaten Banyumas menunjukkan daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut sepanjang 2024. Angka tersebut berkontribusi sekitar 40 hingga 50 persen terhadap total produksi gula kelapa nasional.
Meski memiliki pasar yang terus berkembang, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi sejumlah kendala.
Sebagian besar produsen masih menggunakan metode pengolahan konvensional, terutama pada tahap penguapan nira dan pembentukan kristal gula. Kondisi ini membuat kualitas produk sering kali berbeda antara satu produksi dengan produksi lainnya.
“Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional,” paparnya.
Menurut Sri, konsistensi mutu menjadi salah satu faktor penting dalam pasar ekspor karena pembeli internasional menuntut standar kualitas yang seragam dan berkelanjutan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim FTP UGM memperkenalkan evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar yang dirancang khusus untuk membantu proses produksi gula semut.
Evaporator berfungsi mengentalkan nira kelapa dengan suhu yang lebih terkontrol hingga siap memasuki tahap kristalisasi. Sementara kristalisator digunakan untuk mempercepat pembentukan kristal gula sehingga hasilnya lebih seragam.
Selain memperkenalkan teknologi, program ini juga diisi dengan berbagai pelatihan teknis bagi petani dan pelaku usaha.
“Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup Pelatihan Sanitasi dan hygiene pengolahan gula berbasis nira kelapa pelatihan, karakterisasi gula dari nira kelapa, pascapanen nira kelapa, praktik pengolahan gulasemut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM,” lanjutnya.
Menariknya, pelatihan ini juga menghadirkan mitra internasional dari Universitas Putra Malaysia (UPM) yang berbagi pengalaman mengenai praktik terbaik pengolahan kelapa di Malaysia.
Sementara PT IMC selaku eksportir gula semut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai tantangan yang dihadapi produk gula semut Indonesia dalam menembus pasar global.
Melalui penerapan teknologi yang lebih modern dan terstandar, UGM berharap kualitas gula semut yang dihasilkan petani Banyumas menjadi lebih konsisten.
Dengan mutu yang lebih seragam, potensi produk off-grade dapat ditekan sehingga nilai jual produk meningkat dan daya saing ekspor semakin kuat.
“Penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani,” pungkas Sri Rahayoe.
Langkah ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat posisi Banyumas sebagai sentra gula semut nasional sekaligus menjaga dominasi Indonesia di pasar ekspor gula kelapa dunia.















