Fokus belanja negara, lanjut Juda, diarahkan pada sektor-sektor produktif yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.
Sementara strategi kedua dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas untuk meningkatkan pemasukan negara, termasuk memperkuat sistem perpajakan melalui implementasi Coretax.
Adapun strategi ketiga berasal dari sisi pembiayaan negara. Pemerintah mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan menerbitkan surat utang menggunakan mata uang negara lain.
Instrumen pembiayaan tersebut di antaranya Samurai bonds dalam mata uang Yen Jepang, Dim Sum bonds berdenominasi Renminbi China, hingga Kangaroo bonds dengan mata uang Dolar Australia.
Menurut Juda, kombinasi strategi tersebut mulai menunjukkan hasil positif terhadap kondisi ekonomi nasional. Pada kuartal pertama 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen.
Di saat yang sama, tingkat inflasi masih terkendali di angka 2,42 persen. Defisit fiskal juga tetap terjaga sebesar 0,64 persen hingga April 2026, termasuk stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN).
“Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik,” pungkas Wamenkeu Juda.















