Memasuki hari ketujuh operasi pencarian, personel gabungan bekerja 24 jam penuh dengan sistem shift tiga jam. Tekanan fisik dan mental mulai dirasakan tim. Beberapa anggota mengalami gatal-gatal dan penurunan stamina.
Sebagai respon, Dinas Kesehatan (Dinkes) menambah layanan kesehatan berupa vitamin, suplemen, hingga penanganan medis ringan. Tujuannya menjaga kondisi tim SAR agar tetap prima hingga evakuasi selesai.
Selain kendala teknis, tim juga menghadapi risiko kesehatan dari jenazah yang sudah lebih dari tujuh hari tertimbun. Menurut BNPB, jenazah korban bencana umumnya tidak menularkan penyakit menular langsung seperti HIV, TBC, atau COVID-19. Namun, proses pembusukan dapat menimbulkan risiko bila cairan tubuh meresap ke sumber air bersih.
“Risiko kesehatan bisa muncul bila air tercemar cairan pembusukan. Penyakit seperti diare, kolera, tifoid, atau hepatitis A bisa berkembang di lingkungan padat dengan sanitasi buruk,” jelas Budi.
Untuk mencegah potensi tersebut, BNPB bersama Pusat Krisis Kesehatan RI, Dinkes, dan BPBD Jawa Timur melakukan penyemprotan insektisida serta disinfektan di sekitar lokasi. Selain itu, peralatan tambahan berupa APD sekali pakai, kacamata pelindung, masker, sarung tangan, dan sepatu boots juga disiapkan.
“Nanti semua keperluan, APD, kacamata google dan apapun BNPB akan dukung. BNPB punya banyak APD dan semua peralatan lain yang dibutuhkan,” tegas Budi.















