BANJARNEGARA, MyInfo.ID – Di tengah dominasi tepung gandum impor, produk olahan singkong atau mocaf asal Kabupaten Banjarnegara justru menunjukkan potensi besar sebagai pangan alternatif sekaligus penggerak ekonomi petani lokal. Dari bahan pangan yang dulu kerap dipandang sebelah mata, singkong kini diolah menjadi berbagai produk modern hingga menembus pasar internasional.
Pengusaha mocaf Banjarnegara, Riza Azyumardi Azra, mengatakan dirinya mulai menekuni pengolahan tepung singkong sejak 2015. Saat itu, ia prihatin karena harga singkong petani hanya dihargai sekitar Rp200 per kilogram sehingga hasil panen sulit memberikan keuntungan layak bagi petani.
Melalui usaha Rumah Mocaf yang dirintisnya, Riza kemudian membangun ekosistem pengolahan singkong menjadi modified cassava flour (mocaf) atau tepung singkong termodifikasi yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung gandum.
Berbagai produk turunan pun berhasil dikembangkan, mulai dari chocolate chips, chiffon cake, selondok, tepung roti, tepung berbumbu, gula cair, hingga produk non-gluten lainnya.
“Dalam satu bulan untuk pasar domestik sekitar 30-40 ton. Kini tren permintaannya terus naik. Kami menjual ke pasar retail, pasar daring, dan pesanan personal. Kalau ke luar negeri, pernah ke Oman, Turki, Malaysia, juga ada permintaan dari China,” ujarnya dikutip dari laman Jatengprov, Jumat (15/5/2026).
Riza menjelaskan, bahan baku singkong diperoleh dari para petani di sejumlah wilayah Banjarnegara. Sebagian hasil panen bahkan sudah diolah petani menjadi mocaf sebelum diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk pangan siap konsumsi.
Menurutnya, produk berbasis mocaf memiliki peluang besar karena dinilai lebih sehat, bebas gluten, dan cocok dikonsumsi penderita celiac maupun alergi gandum.















