Menurutnya, pemahaman yang memadai dapat membantu pelajar mengelola uang dengan lebih bertanggung jawab, sekaligus mengenali risiko yang muncul dari penggunaan layanan keuangan.
“Dengan pemahaman keuangan yang baik, siswa pelajar diharapkan mampu mengelola keuangan secara bijak, memahami produk dan layanan jasa keuangan, serta terhindar dari berbagai risiko keuangan maupun investasi illegal dengan mengingat 2L yaitu Legal dan Logis,” kata Dinavia.
Ia juga menyoroti perilaku generasi muda di tengah derasnya pengaruh media sosial. Istilah FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once) dinilai perlu disikapi secara bijaksana agar tidak mendorong keputusan keuangan yang hanya mengikuti tren.
Menurut Dinavia, pelajar perlu mampu memilah pengalaman dan kebutuhan yang benar-benar memberikan manfaat serta sesuai dengan tujuan hidup mereka.
OJK mencatat adanya peningkatan indeks literasi maupun inklusi keuangan berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK).
Indeks literasi keuangan yang pada 2025 tercatat sebesar 66,64 persen meningkat menjadi 69,57 persen pada 2026. Sementara indeks inklusi keuangan naik dari 92,74 persen pada 2025 menjadi 93,61 persen pada 2026.
Meski demikian, peningkatan tersebut tetap perlu diikuti dengan edukasi yang berkelanjutan, khususnya bagi kelompok usia pelajar yang semakin dekat dengan layanan keuangan digital.
Selain edukasi keuangan, OJK Goes To School di Banyumas juga diisi dengan kualifikasi Clash of Financial Genius (CoFG). Kompetisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan HIM 2026 yang digelar di sejumlah kabupaten.
Kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan di MAN Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, serta SMA Negeri 1 Bawang, Kabupaten Banjarnegara.
Para peserta nantinya akan mengikuti kompetisi pada puncak kegiatan Hari Indonesia Menabung yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026 di Kantor OJK Purwokerto.
Melalui kegiatan tersebut, OJK berharap pemahaman pelajar terhadap lembaga jasa keuangan semakin meningkat. Edukasi juga diarahkan agar siswa mampu mengenali berbagai risiko keuangan, termasuk penipuan dan investasi ilegal.
OJK Purwokerto menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi edukasi yang konsisten sehingga semakin banyak pelajar dan masyarakat yang memiliki kemampuan mengelola keuangan secara sehat.
Pada akhirnya, peningkatan literasi dan inklusi keuangan diharapkan dapat membuka akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banyumas.















