Perbedaan tersebut berkaitan dengan sejumlah kemampuan yang berperan dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari mengingat informasi, memproses sesuatu dengan cepat, hingga kemampuan memahami dan menggunakan bahasa.
“Kemampuan kognitif otak yang menjadi awet muda pada orang yang rutin main game meliputi memori jangka pendek, kemampuan penalaran, kemampuan verbal, kecepatan memproses informasi,” jelas dia.
Bukan Berarti Semua Aktivitas Game Pasti Baik
Meski hasil penelitian terdengar menarik, temuan tersebut tidak bisa langsung dimaknai bahwa semakin lama seseorang bermain game, semakin sehat pula otaknya.
Dr. Adam mengingatkan bahwa penelitian tersebut menemukan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat. Dengan kata lain, penelitian belum membuktikan bahwa kebiasaan bermain game secara langsung menyebabkan kemampuan kognitif seseorang menjadi lebih baik.
“Tapi ingat, penelitian ini baru asosiasi ya levelnya, bukan sebab akibat. Masih mungkin ada faktor lain yang berpengaruh ke kemampuan kognitif, selain rutinitas main game,” tegas dr. Adam.
Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, terutama ketika pembahasan mengenai game sering kali berada di antara dua kutub. Di satu sisi, bermain game dapat menjadi aktivitas hiburan yang melibatkan berbagai kemampuan mental. Di sisi lain, penggunaan yang tidak terkendali tetap dapat menimbulkan persoalan, termasuk kecanduan game online.















