“The age of velocity adalah era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi. Karena itu, nilai media bukan lagi sekadar kecepatan, tetapi kepercayaan, akurasi, dan otoritas narasi,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Benny juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada pola pikir instan mengenai kesuksesan.
“Tidak ada kerja cerdas tanpa dimulai dengan kerja keras. Hard work membentuk karakter, passion menjaga semangat, dan discipline membuat seseorang mampu bertahan dalam krisis,” ujarnya.
Ia menambahkan, ANTARA kini terus bertransformasi tidak hanya sebagai penyedia berita, tetapi juga sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem informasi nasional yang kredibel.
“ANTARA bukan lagi sekadar news agency, tetapi harus menjadi aktor ekosistem informasi negara dan sumber informasi yang dipercaya publik,” katanya.
Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN yang dijalankan ANTARA melalui kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memperkuat literasi media di kalangan mahasiswa.
Benny menilai kampus menjadi ruang strategis untuk membangun budaya berpikir kritis sekaligus meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan media konvensional, digital, hingga teknologi kecerdasan buatan.
“Literasi media menjadi penting karena dari situlah masyarakat menjadi paham, tangguh, dan mampu memilah informasi, terutama di ruang digital yang dipenuhi disinformasi, misinformasi, dan malinformasi,” jelasnya.















