Salah satu produk yang dipraktikkan adalah dimsum berbahan dasar daging dan telur puyuh. Produk tersebut dipilih sebagai alternatif olahan yang memiliki peluang untuk dikembangkan dan dipasarkan.
Melalui pengolahan bahan pangan lokal menjadi makanan siap konsumsi, masyarakat tidak hanya mendapatkan alternatif sumber pangan, tetapi juga dapat menciptakan peluang usaha baru.
Agustiawan mengatakan, pengembangan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program pemberdayaan.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok,” katanya.
Program MAMAKU melalui kegiatan tersebut berupaya menggabungkan penguatan ketahanan pangan dengan peningkatan keterampilan, pemberdayaan perempuan serta pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Dengan demikian, hasil budidaya puyuh di Kutawaru tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual yang mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.









