Hasil pertemuan bisnis tersebut mencatat 12.984 potential pax dengan estimasi potensi devisa sebesar Rp254,5 miliar (US$ 15,4 juta). Angka ini dihitung berdasarkan Average Spending per Arrival (ASPA) wisatawan Tiongkok pada 2024, yaitu US$ 1.188,11.
Selain itu, kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok, sehingga menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral dan meningkatkan target nasional kunjungan wisman sebanyak 14,6 hingga 16 juta pada 2025.
WIBM Beijing juga menjadi bagian dari peluncuran awal kampanye global Kemenpar bertajuk #GoBeyondOrdinary. Kampanye ini mengajak wisatawan dunia tidak hanya menikmati panorama alam Indonesia, tetapi juga merasakan keunikan budaya, kuliner khas, keramahan masyarakat, serta pariwisata yang berkelanjutan.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya berkunjung, tapi juga berinteraksi dan membawa pulang pengalaman autentik dari setiap destinasi di Indonesia,” ujar Made.
Selain business matching, Kemenpar juga menggelar Tourism Investment Meeting yang fokus pada peluang investasi. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, menyebutkan Tiongkok pada 2024 menjadi negara asal utama penanaman modal asing (PMA) di sektor pariwisata dengan nilai investasi mencapai Rp540 miliar.
Dalam forum ini, Indonesia menawarkan beragam proyek investasi yang siap dikerjasamakan, mulai dari sektor hospitality, pengembangan kawasan wisata, hingga Health and Wellness Tourism.
“Dengan menampilkan proyek-proyek siap kerja sama, kami berharap tidak hanya melahirkan minat, tetapi juga kesepakatan konkret yang bisa mendorong arus investasi pariwisata Indonesia,” jelas Rizki.















