Selain mengutamakan keselamatan petugas, KLH juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati area kebakaran.
Diaz mengingatkan asap yang dihasilkan dapat membahayakan kesehatan, baik bagi warga sekitar maupun para pemulung yang bekerja di kawasan TPA.
“Kami juga memberikan atensi kepada keselamatan para pekerja, para pemulung disini, jangan sampai pemulung sini terkena dampaknya, dan juga masyarakat sekitar, kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga, ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton karena semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan untuk kena penyakit apapun juga,” katanya.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, KLH/BPLH telah mengerahkan berbagai peralatan pemantauan, termasuk drone dan dua unit mobile monitoring system guna mengukur kualitas udara di sekitar lokasi.
Hasil pemantauan menunjukkan sejumlah parameter pencemaran udara telah melampaui ambang batas.
“Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2 (sulfur dioxide), NO2 (nitrogen dioxide), PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu,” kata Diaz.
Ia juga mengapresiasi dukungan Kementerian Kehutanan yang mengirimkan 30 personel Manggala Agni untuk membantu proses pemadaman.
Menurutnya, pengalaman tim Manggala Agni dalam menangani kebakaran gambut sangat dibutuhkan karena teknik pemadaman dilakukan hingga ke bagian bawah tumpukan sampah.
“Terima kasih juga kepada Kementerian Kehutanan yang telah membantu kami dalam memadamkan api, 30 personil (Manggala Agni) hadir disini dan mereka ini ahli dalam memadamkan gambut jadi yang serupa dengan TPA ini, mungkin kurang efektif jika diairi dari atas saja di bawahnya tetap kebakar sehingga perlu bantuan manggala agni untuk injection sampe titik di bawah,” ujarnya.
Di sela peninjauan, Diaz juga memastikan program waste-to-energy (WTE) yang menjadi prioritas Presiden tetap akan dilanjutkan.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang menjaga lahan yang telah disiapkan agar tidak dialihfungsikan sehingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dapat berjalan sesuai rencana.
“Terkait WTE, kami pastikan bahwa program ini masih bisa tetap berjalan, dan tanah yang dialokasikan untuk WTE agar tidak digunakan untuk hal-hal lain, kita harus mendorong program Bapak Presiden yang sangat baik ini, tetap dijaga terus oleh bupati, demi sukseskan program Presiden,” tuturnya.
Saat ini proses pemadaman masih terus dilakukan menggunakan metode water bombing dengan helikopter. Selain itu, pemerintah juga berencana melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Minggu (5/7/2026) untuk membantu mempercepat pemadaman api.














