JAKARTA, MyInfo.ID – PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat kesiapan penerapan bahan bakar biodiesel B50 pada operasional kereta api berbasis diesel. Langkah tersebut dilakukan melalui serangkaian pengujian teknis guna memastikan keselamatan perjalanan dan kualitas layanan tetap terjaga selama proses transisi energi berlangsung.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan implementasi B50 merupakan kelanjutan dari penggunaan biodiesel sebelumnya, yakni B35 dan B40 yang telah diterapkan di lingkungan operasional KAI.
“KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Pada setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan, keandalan sarana, dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama,” ujar Anne dalam keterangannya dikutip Rabu (20/5/2026).
Emisi Kereta Api Dinilai Lebih Rendah
Sepanjang 2025, penggunaan biodiesel B40 pada layanan kereta api jarak jauh menghasilkan total emisi karbon sebesar 127.315.192 kilogram CO₂e atau sekitar 127,3 ribu ton dari total 47,4 juta pelanggan.
Sementara pada periode Januari hingga April 2026, layanan kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI telah melayani 19.218.440 pelanggan dengan penggunaan bahan bakar biodiesel pada berbagai perjalanan kereta diesel.
Dalam sejumlah studi transportasi, moda berbasis rel disebut memiliki emisi lebih rendah dibanding kendaraan pribadi. Emisi kereta api rata-rata berada di kisaran 15–40 gram CO₂ per penumpang per kilometer, sedangkan kendaraan pribadi dapat mencapai 120–250 gram CO₂ per penumpang per kilometer.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan peran kereta api dalam membantu menekan emisi sektor transportasi di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
Pengujian Dilakukan Bertahap
Dalam mendukung implementasi B50, KAI bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta LEMIGAS melalui serangkaian pengujian yang dimulai sejak pertengahan April 2026.















