Ia juga meminta perwakilan nelayan mencatat kontak pejabat pendamping agar perkembangan penanganan keluhan dapat dipantau setelah kunjungan berlangsung.
Dalam dialog itu, Agustin menyampaikan apresiasi atas kebijakan penyediaan solar khusus untuk kapal nelayan berukuran 31–200 GT. Menurutnya, kebijakan tersebut membantu kapal-kapal dalam kelompok ukuran itu tetap melaut.
“Saya pertama-tama, saya sangat mengucapkan terima kasih atas kebijakan dari Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden terealisasi solar khusus nelayan untuk GT31-200. Ini belum pernah terjadi, ini betul-betul sungguh luar biasa. Jadi buat kapal yang GT31-200 sampai sekarang bisa melaut dengan lancar,” ungkap Agustin.
Namun, nelayan lainnya, Temu, menyebut kapal berukuran 30 GT ke bawah masih menghadapi keterbatasan solar bersubsidi. Ia berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan tersebut agar aktivitas melaut tidak terganggu.
“Cilacap selalu kekurangan BBM subsidi solar untuk kapal 30 GT ke bawah, Pak. Saya mohon barangkali nanti Bapak Wakil Presiden, ini yang sangat ditunggu-tunggu sekali oleh rakyat yang ada di Kabupaten Dilacap, supaya ini bisa terealisasi dan memberikan keamanan, kenyamanan untuk nelayan dan para nelayan bisa melaut dengan baik,” papar Temu.
Menanggapi keluhan itu, Gibran menyatakan pemerintah akan memeriksa kendala yang membuat nelayan belum memperoleh akses solar bersubsidi.
“Coba nanti kami cek ya, kekurangan syarat-syaratnya apa. Kami hadir di sini untuk menyelesaikan permasalahan nelayan yang ada di sini,” ujar Wapres.
Selain persoalan bahan bakar, kunjungan Gibran juga menampung aspirasi terkait pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah, layanan desa, bantuan sosial, air bersih, serta pelayanan yang setara bagi masyarakat.















