Ritual Cukur Rambut Anak Gimbal Tetap Jadi Puncak DCF 2026
Meski musik menjadi salah satu daya tarik, DCF tidak dibangun semata-mata sebagai festival pertunjukan. Identitas utamanya tetap berada pada tradisi dan ritual masyarakat Dieng.
Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah ritual cukur rambut anak-anak gimbal. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Dieng sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang membuat festival ini berbeda dari acara musik pada umumnya.
Tradisi anak gimbal juga memberikan dimensi lain bagi wisatawan. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alam dan pertunjukan, tetapi juga menyaksikan langsung salah satu tradisi yang melekat pada masyarakat Dieng.
Hotel dan Homestay Diburu Wisatawan
Antusiasme terhadap DCF 2026 terlihat dari persiapan wisatawan yang mulai berdatangan. Sejumlah hotel, homestay, dan akomodasi di kawasan Dieng disebut telah banyak menerima pesanan.
Tingginya permintaan tempat menginap menunjukkan festival tidak hanya memberikan dampak pada sektor pertunjukan. Pergerakan wisatawan juga berpotensi menggerakkan usaha akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan hingga produk UMKM.
Panitia pun menyiapkan pengelolaan sampah selama festival. Langkah tersebut dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarnegara dan Sekber Pecinta Alam Banjarnegara.
“Kami akan mengolah dan memilah sampah untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan selama festival. Sampah-sampah itu akan diolah dan dimanfaatkan menjadi bahan daur ulang hingga pupuk organik,” kata Alif.
DCF 2026 Diharapkan Dongkrak Ekonomi Warga Dieng
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melihat DCF sebagai salah satu penggerak ekonomi berbasis masyarakat. Konsistensi Pokdarwis Dieng Pandawa selama 16 tahun dinilai turut membangun ekosistem wisata di kawasan tersebut.
Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana mengatakan pemerintah daerah mendukung penyelenggaraan festival karena manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Pemerintah daerah sangat mendukung inisiatif yang dilakukan oleh Pokdarwis Dieng Pandawa sejak 16 tahun lalu. Mereka secara partisipatif telah terbukti mengembangkan industri wisata berbasis komunitas yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Amalia.
Ia menyebut laporan Bank Indonesia pada 2025 mencatat perputaran uang selama festival di kawasan Dieng mencapai lebih dari Rp40 miliar.
Tahun ini, pemerintah berharap dampak ekonomi tersebut dapat meningkat. Durasi kunjungan dan masa tinggal wisatawan menjadi salah satu faktor yang diharapkan mampu memperbesar perputaran ekonomi lokal.
“Tahun lalu, festival hanya berlangsung dua hari memberi dampak ekonomi lebih dari Rp40 miliar uang beredar. Semoga tahun ini uang yang beredar untuk peningkatan pendapatan masyarakat lebih banyak,” katanya.
Jadwal dan Rangkaian Acara Dieng Culture Festival 2026
Bagi wisatawan yang berencana datang, berikut sejumlah agenda utama Dieng Culture Festival 2026:
- Kongkow Budaya bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh dan sejumlah tokoh budaya.
- Pertunjukan Kiai Kanjeng di Venue Arjuna.
- Ritual cukur rambut anak gimbal sebagai salah satu agenda utama DCF.
- Jazz Atas Awan di Venue Pandawa.
- Jazz Atas Awan Showcase di Venue Gatotkaca.
- Festival Kopi Dieng di Venue Gatotkaca.
- EXPO UMKM di Venue Arjuna.
- Festival Domba Batur.















