“Senang ikut pelatihan ini karena dapat banyak ilmu baru. Insyaallah ke depannya produk olahan buah naga ini mau saya tambah ke jualan saya, biar pilihan oleh-oleh buat pengunjung makin banyak,” tuturnya.
Ketua Pokdarwis Pekunden Rudi Pamungkas mengatakan produk turunan buah naga memberikan alternatif baru dalam mengembangkan paket wisata sekaligus oleh-oleh.
“Kami sangat berterima kasih atas ilmu dan pelatihan praktis yang diberikan oleh tim dosen UMP. Pelatihan pembuatan teh celup, dodol, stik dan es krim buah naga ini sangat aplikatif dan menjadi inovasi baru bagi kami dalam mengembangkan variasi oleh-oleh khas Desa Wisata Pekunden,” katanya.
Pengolahan buah naga juga dinilai memiliki keuntungan dari sisi keberlanjutan usaha. Produk turunan memungkinkan komoditas tersebut tetap memiliki nilai ekonomi ketika tanaman tidak sedang memasuki masa panen.
Artinya, potensi buah naga tidak berhenti ketika buah segar habis dipetik. Produk olahan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus memperpanjang rantai ekonomi dari hasil pertanian warga.
Produk hasil pelatihan bahkan langsung diperkenalkan kepada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kebun buah naga Pekunden.
Salah seorang wisatawan asal Jepang, Hatoro (70), mencicipi produk olahan tersebut dan memberikan respons positif. Ia menilai pengembangan buah naga menjadi berbagai produk dapat menjadi gagasan menarik untuk memperkuat daya tarik wisata.
Diversifikasi dinilai relevan karena tanaman buah naga tidak menghasilkan buah sepanjang tahun. Produk olahan dapat menjadi cara untuk menjaga pengalaman wisata sekaligus aktivitas ekonomi tetap berjalan di luar musim panen.
Hatoro juga berharap pendampingan dari dosen dan mahasiswa UMP dapat membantu Desa Pekunden semakin dikenal, termasuk oleh wisatawan dari luar negeri.
Program pemberdayaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak selalu harus dimulai dari pembangunan destinasi baru. Potensi yang sudah dimiliki masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dalam program ini, dosen UMP memberikan pendampingan dari berbagai sisi. Mulai dari inovasi produk, proses produksi, pengemasan hingga pengenalan pemasaran melalui platform digital.
Mahasiswa KKN Tematik UMP juga ikut terlibat dalam kegiatan. Selain membantu masyarakat, keterlibatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat.
Kolaborasi UMP, Pemerintah Desa Pekunden, Pokdarwis Wisanggeni, pelaku UMKM dan warga diharapkan membuat inovasi buah naga tidak berhenti sebagai hasil pelatihan.
Ke depan, produk seperti teh celup, dodol, stik dan es krim buah naga berpeluang dikembangkan menjadi oleh-oleh khas Desa Wisata Pekunden.
Dengan cara tersebut, wisatawan yang datang ke Pekunden tidak hanya menikmati kebun buah naga. Mereka juga dapat membawa pulang produk olahan karya warga, sehingga kunjungan wisata ikut memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat desa.















