BANYUMAS, MyInfo.ID – Buah naga di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, kini tidak hanya dijual sebagai buah segar. Komoditas tersebut mulai diolah menjadi aneka produk bernilai tambah, dari teh celup, dodol, stik hingga es krim.
Inovasi itu dikembangkan melalui program pemberdayaan masyarakat yang digagas tim dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisanggeni dan warga Desa Pekunden.
Program bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pokdarwis Pekunden Berbasis Diversifikasi Produk Wisata dalam Upaya Penguatan Ekonomi Lokal” tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (15-16/8/2026).
Selama ini, buah naga menjadi salah satu potensi pertanian yang dimiliki Desa Pekunden. Namun, penjualan dalam bentuk buah segar membuat nilai ekonominya masih bergantung pada kondisi pasar dan musim panen.
Melalui pendampingan tersebut, masyarakat dikenalkan pada konsep diversifikasi. Tidak hanya daging buah, bagian lain dari buah naga juga dicoba dimanfaatkan agar menghasilkan produk baru.
Kulit buah naga, misalnya, diolah menjadi bahan teh celup. Sementara daging buah dikembangkan menjadi dodol, stik dan es krim.
Ketua Tim Pengabdian UMP Muhammad Amir Biky mengatakan pengembangan produk turunan menjadi langkah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat daya tarik Desa Wisata Pekunden.
“Inovasi yang kami hadirkan difokuskan pada optimalisasi komoditas unggulan desa, yaitu buah naga. Kami mendampingi masyarakat dan Pokdarwis Wisanggeni dalam mengolah dan mengemas produk turunan berupa teh celup buah naga, dodol buah naga, stik buah naga, dan es krim buah naga,” ujar Biky saat ditemui di Purwokerto, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, pengembangan produk lokal perlu berjalan beriringan dengan sektor pariwisata. Dengan begitu, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati objek wisata, tetapi juga memiliki pilihan untuk membeli produk khas yang dihasilkan masyarakat setempat.
“Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik wisata sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal secara mandiri,” lanjutnya.
Pendampingan UMP tidak berhenti pada pelatihan membuat makanan olahan. Warga dan anggota Pokdarwis juga mendapatkan pengetahuan mengenai kemasan, legalitas produk hingga pemanfaatan e-commerce untuk memperluas pemasaran.
Hari pertama diisi dengan materi sekaligus praktik pembuatan produk. Peserta mencoba mengeringkan kulit buah naga untuk bahan teh celup, mengolah dodol, membuat stik serta memproses buah naga menjadi es krim.
Pada hari berikutnya, perhatian diarahkan pada pengemasan. Produk yang sudah dibuat ditata agar memiliki tampilan lebih bersih, rapi dan menarik sehingga lebih siap ditawarkan kepada konsumen.
Kepala Desa Pekunden Suranto, S.Pd., turut mengapresiasi pendampingan tersebut. Kehadiran perguruan tinggi dinilai memberikan masyarakat pengetahuan yang dapat langsung diterapkan untuk mengembangkan potensi desa.
Salah seorang peserta yang juga pelaku UMKM Desa Pekunden, Saminah, mengaku mendapatkan ide baru untuk memperbanyak pilihan produk yang dijual kepada wisatawan.















