Melalui Jazz Gunung Series, penyelenggara menghadirkan konser musik di berbagai kawasan pegunungan Indonesia sebagai upaya mempromosikan pariwisata, budaya, serta kearifan lokal di setiap daerah.
Pada tahun ini, tema “Jazztination” dipilih untuk menggabungkan pertunjukan jazz dengan destinasi wisata unggulan Indonesia sehingga menghadirkan pengalaman berbeda bagi para penonton.
Sigit Pramono: Festival Ini Ikut Menggerakkan UMKM
Pendiri Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya festival tersebut, termasuk sponsor utama.
“Jadi sekali lagi terima kasih, saya ingin ucapkan karena juga penyelenggaraan acara seperti ini itu harus ada sponsornya yang paling kuat,” ucapnya.
“Kalau kami didukung Jazz Gunung Series ini oleh Bank Rakyat Indonesia. Kami ingin menyelenggarakan Jazz Gunung ini, menggerakkan juga komunitas, semua UMKM,” lanjutnya.
Selain pertunjukan musik, festival ini juga menghadirkan Kampung Durian, melalui Durian Kampung. Pengunjung dapat menikmati beragam varietas durian Nusantara sekaligus memperoleh edukasi mengenai kekayaan hayati Indonesia dan pentingnya mendukung petani durian lokal.
“Satu-satunya konser jazz di dunia, orang bisa makan durian sekaligus. Dan itu bisa terjadi di Purwokerto,” ujar Sigit.
NonaRia: Jazz Bukan Musik Kalangan Elite
Di sela penampilannya, personel NonaRia turut menyoroti semakin besarnya minat generasi muda terhadap musik jazz. Menurut vokalis Nesia Ardi, fenomena tersebut tidak lepas dari rasa penasaran masyarakat untuk mengeksplorasi musik yang berbeda.
“Kalau menurut saya mungkin ada satu titik kebosanan juga mungkin di masyarakat kayak dengerin lagu yang di satu dekade belakangan itu hal yang sama gitu,” katanya.
Ia menilai ketertarikan terhadap jazz akan semakin bermakna apabila pendengar benar-benar mempelajari sejarah dan perkembangan genre tersebut.
“Kayak sekarang oke dengerin jazz, tapi sejauh mana kamu dengerin jazz? Dua apakah itu hanya untuk ikut-ikutan temen atau emang bener-bener iya. Kalau iya you will dig deeper. Kamu akan dig lebih ke belakang lagi, tahun 30-an ada apa, tahun 20-an ada apa. Terus jazz itu berawal dari mana dan segala macam,” jelasnya.
Nesia juga menepis anggapan bahwa jazz hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu.
“Kita gak akan bilang kalau jazz itu untuk kelas elit tertentu. Karena jazz itu muncul dari bawah, dari kaum yang marginal gitu. Apakah kalian akan mencari tahu sejauh itu atau enggak,” ujarnya.
Sementara itu, personel NonaRia lainnya, Nanin Wardhani, menilai perkembangan internet menjadi salah satu faktor utama yang membuat anak muda semakin mudah mengenal berbagai genre musik, termasuk jazz.
“Sama yang jelas internet sih itu sangat membuka pengetahuan musik. Waktu kami masih usia sekolah dulu kan gak ada pilihan ya, cuman pasti dengerinnya sama, generasi kami itu pasti sama, kalau gak dari TV, radio. Kalau anak-anak sekarang bisa eksplor sendiri. Bagus banget sih.”
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya mendengarkan jazz, tetapi juga menggali sejarah dan kekayaan musik tersebut.
“Betul, teman-teman bisa explore dan cari tahu lebih dalam lagi mengenai jazz,” tutup Nanin.















