“Untuk pasien ini, datang dikirim oleh sejawat dengan kelainan spina bifida pada usia kehamilan 18 minggu. Ini menjadi kesempatan untuk melakukan repair karena waktunya hanya sampai 26 minggu. Kami bergerak cepat dan mendapat dukungan penuh dari manajemen serta seluruh tim,” ujar dr. Gatot.
Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, menjelaskan bahwa myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat.
Perbaikan kelainan sejak janin masih berada di dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut. Tindakan tersebut juga ditujukan untuk menekan risiko komplikasi dalam jangka panjang, termasuk hidrosefalus.
Namun, operasi semacam ini membutuhkan tingkat koordinasi yang sangat tinggi. Stabilitas janin selama prosedur menjadi salah satu faktor penting yang harus terus dipantau.
“Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,” jelas dr. Alfi.
Karena itu, prosedur melibatkan banyak keahlian sekaligus. Mulai dari dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat hingga tenaga pendukung lainnya.
Keberhasilan operasi perdana tersebut juga tidak terlepas dari kerja sama RSAB Harapan Kita dengan Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia.
Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan tim dari kedua negara bekerja berdampingan dalam operasi tersebut. Menurutnya, tindakan berjalan dengan baik tanpa komplikasi.
“Yesterday, a historic event here in Indonesia, operating side-by-side with our friends from Harapan Kita, we performed the first surgery, and it went very well. We didn’t have any complications. (Kemarin, dalam sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia, kami bekerja sama dengan rekan-rekan dari Harapan Kita untuk melakukan operasi pertama, dan hasilnya sangat baik. Tidak ada komplikasi yang terjadi.),” ujar Dr. Glenn Radford.
Kolaborasi internasional tersebut diharapkan tidak berhenti pada operasi pertama. Pengalaman dan kemampuan yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat kapasitas tim Indonesia untuk menangani fetal surgery secara mandiri.
Keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prinsip utama dalam pengembangan layanan tersebut.
Setelah tim dari Australia kembali ke negaranya, RSAB Harapan Kita ditargetkan dapat meneruskan layanan serupa dengan kemampuan tenaga medis dalam negeri.
Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, mengatakan kesiapan tim multidisiplin menjadi modal untuk melanjutkan program tersebut.
“Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya dan juga menularkan kemampuan ini ke rumah sakit-rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal,” ujarnya.
Pengembangan kemampuan tersebut nantinya tidak hanya dipusatkan di RSAB Harapan Kita. Program pengampuan akan diarahkan agar rumah sakit lain yang memiliki kapasitas di bidang fetomaternal dapat mengembangkan layanan sejenis.
Dengan demikian, akses terhadap layanan kedokteran tingkat lanjut bagi ibu dan anak diharapkan semakin luas.
Dari sisi kebijakan, pengembangan layanan berteknologi tinggi juga menjadi bagian dari transformasi manajemen rumah sakit pemerintah.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes dr. Azhar Jaya mengatakan penguatan tata kelola rumah sakit dapat mendukung pengembangan kompetensi, pelatihan, serta pengampuan layanan advanced.
“Uang kelebihan daripada RSAB ini akan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk pelatihan dan pengampuan,” ujar dr. Azhar Jaya.
Model tersebut diharapkan membuat investasi pada layanan kedokteran canggih tidak hanya menghasilkan kemampuan bagi satu rumah sakit. Pengetahuan dan keterampilan yang telah dibangun dapat ditularkan kepada fasilitas kesehatan lain.
Pada akhirnya, keberhasilan bedah janin terbuka pertama di Indonesia menjadi lebih dari sekadar pencapaian sebuah operasi.
Langkah tersebut menandai kemampuan Indonesia dalam menangani kelainan bawaan sejak masih dalam kandungan, sekaligus membuka jalan menuju layanan fetal surgery yang semakin mandiri.
Kemenkes juga mendorong penguatan tenaga kesehatan, jejaring rujukan, kerja sama internasional dan pemerataan layanan advanced agar masyarakat Indonesia memiliki semakin banyak pilihan memperoleh layanan kesehatan berkualitas tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri.















