News  

UIN Jakarta Bedah Ensiklopedi 50 Tokoh Muslim, Petakan Arah Pemikiran Islam Indonesia

UIN Jakarta membedah Ensiklopedi Pemikiran Islam Indonesia Abad XXI yang memuat 50 tokoh Muslim dan memetakan sembilan konfigurasi pemikiran Islam kontemporer.

Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar bedah buku Ensiklopedi Pemikiran Islam Indonesia Abad XXI dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Foto: Kemenag
banner 120x600

Menurut Suwendi, perguruan tinggi kini tidak cukup hanya menghasilkan pemikiran. Lembaga akademik juga perlu memetakan arah perkembangan pemikiran Islam, termasuk dengan menggali tradisi keilmuan pesantren.

“Pesantren jangan hanya menjadi objek penelitian. Pengalaman dan tradisi keilmuan pesantren perlu kita konseptualisasikan sehingga dapat berkembang menjadi keilmuan Islam Indonesia dengan karakter dan perspektifnya sendiri, serta mampu berdialog dengan dunia,” kata Suwendi.

Pandangan tersebut menempatkan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan juga sumber pengetahuan yang berpotensi memperkaya kajian Islam di tingkat internasional.

Ada Catatan Kritis soal Pemilihan Tokoh

Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Rumadi Ahmad, menilai ensiklopedi ini lebih dari sekadar kumpulan profil tokoh. Buku tersebut merupakan upaya merekam perkembangan pemikiran Islam di tengah perubahan masyarakat dan otoritas keagamaan.

Ia mengapresiasi keragaman tokoh, keluasan disiplin, serta potensi buku sebagai rujukan akademik. Namun, Rumadi juga memberikan sejumlah catatan, mulai dari perlunya kejelasan kriteria pemilihan 50 tokoh dan batas waktu abad XXI hingga konsistensi kedalaman analisis setiap entri.

Keterwakilan wilayah, generasi, gender, dan tradisi pemikiran juga menjadi perhatian. Selain itu, konsistensi sumber dan penyuntingan dinilai perlu diperhatikan agar kualitas ensiklopedi semakin kuat.

Sementara itu, Mohammad Hasan Basri memetakan isi buku ke dalam sembilan konfigurasi pemikiran Islam Indonesia, yaitu:

  • Islam moderat, toleransi, dan kemanusiaan.
  • Pribumisasi Islam dan identitas keindonesiaan.
  • Konservatisme, radikalisme, dan deradikalisasi.
  • Islam, demokrasi, negara, dan politik kebangsaan.
  • Gender dan keadilan perempuan.
  • Transformasi digital.
  • Tradisi keilmuan dan pembaruan pemikiran.
  • Pesantren dan pewarisan tradisi intelektual.
  • Ekonomi syariah dan kebijakan kesejahteraan sosial.

Pemetaan itu menunjukkan bahwa pemikiran Islam Indonesia berkembang dalam beragam arah. Tradisi dan modernitas, hubungan agama dengan negara, serta identitas keislaman dan kemajemukan terus berinteraksi dalam ruang intelektual yang dinamis.

Ensiklopedi Diharapkan Jadi Rujukan Kebijakan dan Diplomasi

Peran pesantren kembali mendapat perhatian dalam pembahasan tersebut. Mohammad Hasan Basri menempatkan pesantren sebagai ruang pendidikan agama, transmisi ilmu, pembentukan karakter, sekaligus pewarisan tradisi intelektual.

Pandangan itu sejalan dengan sambutan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar dalam buku tersebut. Ia menilai ensiklopedi ini berpotensi menjadi rujukan akademik, dasar ilmiah bagi kebijakan publik berbasis bukti, serta sarana diplomasi budaya dan peradaban Islam Indonesia.

Bedah buku ini menjadi bagian dari peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta, terdiri atas guru besar, dosen, dan mahasiswa.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow