JAKARTA, MyInfo.ID – Tahun 2025 menjadi periode penting bagi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Di balik angka-angka teknis dan dokumen standar, ada dampak nyata yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat, yakni dari keamanan wadah makan anak sekolah, hingga UMK lokal yang kini produknya menembus pasar dunia.
Lewat penguatan infrastruktur mutu nasional mulai dari standardisasi, akreditasi, hingga metrologi BSN menegaskan bahwa standar bukan sekadar aturan teknis, melainkan instrumen perlindungan publik sekaligus penggerak ekonomi nasional.
Sepanjang 2025, BSN menetapkan 595 Standar Nasional Indonesia (SNI) baru di berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, kesehatan, energi, hingga teknologi informasi. Dengan tambahan tersebut, total SNI aktif di Indonesia mencapai 10.081 standar hingga akhir tahun.
Sejumlah SNI disusun secara khusus untuk mendukung kebijakan prioritas pemerintah, seperti SNI food tray, beras fortifikasi, interlocking block, geotekstil, hingga sistem peringatan dini gerakan tanah. Standar-standar ini dirancang agar kebijakan publik berjalan aman, efisien, dan berkelanjutan.
Plt. Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menegaskan bahwa perumusan SNI tidak bisa dilepaskan dari perlindungan masyarakat.
“SNI 9369:2025 tentang Wadah bersekat (Food Tray) dari baja tahan karat untuk makanan, kami susun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Standar ini memastikan peralatan makan aman digunakan, tahan lama, dan tidak mengandung zat berbahaya, sekaligus mendorong industri dalam negeri menghasilkan produk berkualitas,” ujar Kristianto.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Konferensi Pers “Refleksi Tahun 2025 dan Outlook Tahun 2026” di Kantor BSN, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Meski jumlah SNI terus bertambah, tantangan penerapan masih besar. Dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, baru 1.099 jenis atau sekitar 18,5 persen yang telah menerapkan SNI. Sementara produk ber-SNI yang berhasil menembus pasar ekspor baru mencapai 204 jenis, setara 3,4 persen.
Namun di balik persentase tersebut, terdapat kisah sukses UMK yang berhasil naik kelas berkat standar.
Sepanjang 2025, BSN memfasilitasi penerapan SNI bagi 775 UMK dan 52 organisasi, serta mendukung sertifikasi SNI bagi 149 pelaku usaha. Hasilnya, 19 UMK binaan BSN berhasil menembus pasar internasional.
Produk yang diekspor pun beragam dan mencerminkan kekuatan lokal Indonesia: durian ke China dan Thailand, rumput laut ke Prancis dan Amerika Serikat, keripik nangka ke Eropa dan Asia Tenggara, tempe ke Jepang, hingga briket arang batok kelapa ke Turki, Swedia, India, dan Timur Tengah.













