PURWOKERTO, MyInfo.ID – Di tengah kesibukan aktivitas akademik di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), sekelompok mahasiswa asal Aceh dan Sumatera menjalani hari-hari yang tidak mudah. Bencana alam yang melanda kampung halaman mereka beberapa pekan terakhir menyisakan luka mendalam, sekaligus memutus aliran dana bulanan yang selama ini menjadi penopang hidup di perantauan.
Sebanyak delapan mahasiswa dari dua wilayah tersebut kini menghadapi situasi yang berat. Untuk meringankan beban mereka, UMP mengambil langkah cepat, yakni memberikan makan gratis setiap hari hingga membebaskan biaya kuliah tetap (SPP) selama dua semester bagi mahasiswa yang terdampak. Keputusan itu menjadi secercah harapan di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi.

Salah satunya adalah Asra Sirjani, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan asal Kabupaten Bireuen, Aceh. Ia masih mengingat bagaimana gelombang panik menerjang ketika kabar bencana sampai ke Purwokerto.
“Komunikasi dengan keluarga bisa, tapi terbatas, paling lewat chat. Kalau telepon sinyalnya masih jelek. Dari sana ngabarin alhamdulillah semuanya selamat, cuma minta doa saja yang terbaik,” ujar Asra kepada wartawan di lobi Kantor Pusat UMP, Jumat (12/12/2025).
Kondisi kampung halamannya pun jauh dari stabil. Beberapa akses terputus, termasuk jembatan utama. Banyak warga kesulitan mendapatkan makanan, sementara logistik tidak mudah masuk. Ia sendiri masih terbayang bagaimana keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah tetangga yang memiliki lantai dua.
“Rumah tidak rusak, tapi terendam semua sampai harus jebol plafon buat duduk di atasnya,” kata Asra.
Selama kiriman uang terhenti, ia mengaku harus meminjam dari teman hanya untuk bertahan hidup. “Saya sudah dua minggu lebih tidak ada kiriman dari orang tua, jadi ini sangat membantu,” tuturnya ketika mengetahui kebijakan bantuan dari kampus.
Cerita serupa datang dari Fariha Salsabila, mahasiswa Prodi Anastesi, Fakultas Kesehatan, semester tiga, asal Kabupaten Bandar Meriah, Aceh Tengah. Sudah setahun lebih ia tinggal di Purwokerto, jauh dari keluarga yang kini juga terdampak bencana.
Ia mengaku terakhir berkomunikasi secara lancar dengan orang tuanya dua minggu lalu. “Sekarang bisa kontak, tapi jaringan pakai Starlink dan itu ada waktunya. Kadang terputus sendiri, jadi ngobrol belum bisa leluasa. Nanya kabar pun sebatas kabar,” ucapnya.
Tanpa kiriman uang bulanan, Fariha memilih berhemat sembari mengandalkan tabungan. “Pinjam ke teman itu rasanya nggak enak. Takutnya nanti mereka butuh, sementara kita belum bisa bayar,” katanya.













