Santri Disabilitas di Jepara Bangun Usaha Batik Lewat Program PKW 2025, Kini Mulai Dipasarkan Online

Dengan pelatihan membatik berbasis budaya lokal, peserta mulai merintis usaha sendiri, termasuk santri tunarungu dan tunawicara di Jepara. Foto: Kemendikdasmen
banner 120x600

JEPARA, MyInfo.ID – Semangat kemandirian tumbuh dari ruang pelatihan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui pelatihan membatik berbasis budaya lokal, sejumlah peserta mulai merintis usaha sendiri, termasuk santri tunarungu dan tunawicara asal Kabupaten Jepara.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Ajibatin Ni’mah atau akrab disapa Mbak Aik. Alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara itu tetap bersemangat mengembangkan kemampuan membatik meski memiliki keterbatasan komunikasi.

Pelatihan membatik dalam program PKW 2025 berlangsung pada Mei hingga Juni 2025 dan diikuti peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas.

Mbak Aik masih aktif belajar di pondok pesantren sambil terus mengasah kemampuan membatik di sela kegiatan mengaji. Foto: Kemendikdasmen

Pendamping pelatihan PKW 2025, Muhammad Zainal Abidin, mengatakan Mbak Aik sebenarnya sudah mengenal dasar membatik sejak duduk di bangku sekolah. Namun, keterampilannya semakin berkembang setelah mengikuti program PKW.

“Untuk komunikasinya menggunakan bahasa isyarat dan kebetulan saya mendampingi untuk membantu komunikasi. Mbak Aik mulai belajar membatik sejak sekolah, lalu dilanjutkan melalui pelatihan PKW untuk mengasah kemampuan lebih dalam tentang batik,” ujar Abidin, dikutip Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, peserta program tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan lanjutan hingga Maret 2026 agar mampu membangun usaha mandiri.

Saat ini, Mbak Aik masih aktif belajar di pondok pesantren sambil terus mengasah kemampuan membatik di sela kegiatan mengaji. Hasil karya batiknya pun mulai dipasarkan secara daring melalui toko digital bernama “Santui Jepara”, singkatan dari Santri Tuli.

Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, mengapresiasi semangat peserta disabilitas yang tetap ingin berkembang menjadi wirausaha.

Menurutnya, model pembelajaran PKW dirancang secara inklusif agar peserta berkebutuhan khusus tetap mendapatkan akses belajar yang sama.

”Direktorat Kursus dan Pelatihan telah merancang model pembelajarannya bersifat inklusif, sehingga peserta didik yang memiliki keterbatasan secara fisik tetap mampu mengikuti proses belajar, serta dapat mewujudkan cita-citanya di masa depan,” tegasnya sembari menyaksikan Aik membatik khas Jepara motif burung.

Abidin menambahkan, program PKW juga membantu meningkatkan rasa percaya diri peserta disabilitas agar mampu berkarya dan mandiri secara ekonomi.

“Kami berharap ke depan ada lebih banyak pelatihan khusus bagi teman-teman disabilitas, karena mereka membutuhkan arahan dan pendampingan untuk membangun kepercayaan diri,” ucapnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow