Cerita sukses lainnya datang dari Tsabita Durratul Hikmah, alumni SMKN 2 Jepara yang juga mengikuti PKW 2025. Berbekal pengalaman belajar seni batik di sekolah, Tsabita kini mulai membangun usaha kelompok bernama Batik Catur Wastawa bersama rekannya.
Mereka memproduksi batik khas Jepara dengan motif budaya lokal, salah satunya motif Lung-lungan yang terinspirasi dari ukiran tradisional Jepara.
“Dengan adanya pelatihan, saya jadi lebih mendalami tentang batik dan mendapatkan pengetahuan tentang bahan serta proses produksinya,” ujar Tsabita.
Produk batik mereka kini mulai dipasarkan secara online, meski masih dalam tahap pengembangan produksi dan pemasaran.
Instruktur PKW 2025 dan 2026 Dekranasda Kabupaten Jepara, Titik Susanti, mengatakan pelatihan diikuti 15 peserta dari berbagai daerah dan sekolah, termasuk peserta disabilitas.
Pelatihan dilakukan dengan sistem blended learning selama 32 hari atau sekitar 250 jam pelajaran.
“Anak-anak mengangkat budaya lokal dari daerah masing-masing. Ada yang membuat motif ukiran Jepara, terumbu karang, ikan, kura-kura, sampai keindahan pesisir Bandengan,” jelas Titik.
Menurutnya, kemampuan membatik para peserta sudah cukup baik. Namun, tantangan terbesar saat ini masih berada pada sisi pemasaran dan pengembangan usaha.
“Kalau membuat batik, anak-anak sudah terampil. Tantangannya memang di pemasaran. Karena itu kami berharap ada program lanjutan terkait marketing, manajemen usaha, dan strategi pemasaran produk,” ujarnya.
Pada 2026 mendatang, program PKW di Jepara kembali dilanjutkan dengan jumlah peserta yang meningkat menjadi 30 orang.
Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak wirausaha muda berbasis budaya lokal yang lahir, sekaligus membuka ruang belajar yang lebih inklusif bagi seluruh peserta didik, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas.















