“Dulu informasi seputar sejarah kereta itu menyebar dimana-mana dan kadang-kadang cuma fragment yang belum tentu kita itu tahu (informasi tentang apa). Memang Belanda terkenal arsipnya yang rapi, tapi seringkali tetap ada yang ngeblong (informasinya). Foto, loh ini kok fotonya katanya Magelang tapi kayak bukan Magelang, atau fotonya dimana tapi bukan dimana,” kata dia.
Dari persoalan tersebut, Faishal mulai mencari pembanding melalui koran lama, dokumen, hingga foto-foto lawas.
Temuan itu kemudian diolah menjadi tulisan dan konten sejarah agar dapat dinikmati masyarakat. Roda Sayap yang awalnya dibuat untuk kegiatan iseng pun berkembang menjadi platform yang secara khusus menyajikan informasi sejarah.
Faishal menilai penghargaan Koshta Sanggraha justru menjadi pengingat untuk terus melanjutkan kerja tersebut.
“Sebenarnya penghargaan ini seperti pecut. Jadi (saya) dipecut dengan (penghargaan) ini. Ini adalah pengingat agar saya tidak lupa dengan tujuan saya membuat platform ini seperti apa, agar nanti bisa lebih bekerja sama lagi dengan yang lain, bisa lebih menghadirkan lagi apa-apa yang mungkin orang sudah lupa,” kata dia.
Founder BHHC, Jatmiko Wicaksono, menjelaskan Koshta Sanggraha diberikan kepada individu, komunitas, maupun lembaga yang aktif melestarikan arsip dan mengolahnya menjadi bahan edukasi publik.
Penerima penghargaan sebelumnya juga melalui proses kurasi.
“Tahun lalu BHW memberikan penghargaan kepada pustakawan dan pemerhati sejarah almarhum dr Sudarmadji, kolektor foto almarhum Sugeng Wiyono dan pengarsip foto Toko Hobby. Mereka secara aktif melakukan edukasi lewat arsip yang dikelola,” ujarnya.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas Agus Anggraito turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pameran dan aktivitas komunitas menjadi cara efektif untuk menumbuhkan gerakan literasi berbasis arsip.
Kolaborasi serupa juga dilakukan Dinarpusda Banyumas bersama Rumah Arsip Banjoemas (RAB). Salah satu kerja sama terbaru mereka adalah pengusulan arsip batik nusantara sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026.
Arsip yang dikelola melalui RAB dinilai turut memperkaya pengetahuan mengenai perjalanan dan perkembangan batik Banyumasan.















