News  

Tantangan Karhutla TNBTS di Lumajang, Sumber Air Berjarak 7 Km dan Angin Jadi Kendala

Upaya Pemadaman api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Foto: BPBD Lumajang
banner 120x600

LUMAJANG, MyInfo.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tepatnya di wilayah Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.

Medan yang sulit dijangkau, sumber air yang berada sekitar 7 kilometer dari titik kebakaran, tumpukan vegetasi kering, hingga arah angin yang berubah-ubah membuat proses pengendalian api membutuhkan strategi khusus.

Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) sejak Kamis (6/8/2026). Personel disiagakan untuk memantau perkembangan api sekaligus mengantisipasi kemungkinan pergerakan kebakaran menuju wilayah Lumajang.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan petugas ditempatkan secara bergantian dan terus berkoordinasi dengan berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Salah satu persoalan terbesar dalam penanganan kebakaran adalah lokasi sumber air yang cukup jauh dari titik api. Jarak pengambilan air diperkirakan mencapai sekitar 7 kilometer.

Kondisi tersebut membuat pemadaman dari darat tidak bisa dilakukan secara sederhana. Petugas harus memperhitungkan kebutuhan air sekaligus akses untuk mengangkut personel dan peralatan menuju kawasan yang terbakar.

Tantangan bertambah karena medan menuju lokasi kebakaran cukup curam. Kondisi geografis tersebut menyulitkan mobilisasi petugas dan perlengkapan pemadaman.

Di sekitar titik kebakaran juga ditemukan banyak dahan serta ranting yang mengering. Vegetasi kering tersebut berpotensi menjadi bahan bakar yang mempercepat penjalaran api, terutama ketika angin bertiup cukup kencang.

Perubahan arah angin menjadi persoalan lain yang terus dipantau. Arah api dapat berubah mengikuti kondisi angin sehingga strategi pemadaman harus disesuaikan berdasarkan situasi terbaru di lapangan.

Menghadapi kondisi tersebut, tim gabungan tidak hanya mengandalkan satu metode pemadaman. Penanganan dilakukan dengan mengombinasikan upaya dari darat dan dukungan melalui udara.

Dari darat, petugas membuat sekat api untuk membatasi pergerakan kobaran. Gepyokan menggunakan dahan atau ranting basah juga dilakukan untuk membantu mengendalikan api di titik yang memungkinkan dijangkau petugas.

Petugas turut melakukan pemotongan sejumlah pohon yang berada di jalur alternatif. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi potensi api menyambar vegetasi lain yang berada di sekitar jalur tersebut.

Sementara dari udara, pemadaman dilakukan menggunakan metode water bombing. Dua unit helikopter dikerahkan pada Jumat (7/8/2026) dengan mengambil air dari Ranu Regulo untuk kemudian dijatuhkan ke kawasan yang terbakar.

Operasi water bombing kembali dilakukan pada Sabtu (8/8/2026) sebagai bagian dari upaya pengendalian kebakaran dari udara.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow