Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan keterbatasan lahan. Sistem budidaya kepiting kemudian dipadukan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan untuk mengoperasikan aerator.
Dengan konsep tersebut, masyarakat dapat melakukan budidaya kepiting di sekitar rumah tanpa harus menyediakan lahan yang luas.
Adapun DEB Bank Sampah Abhipraya Kutawaru mengembangkan program Masyarakat Mandiri Kutawaru Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Terpojok (MAMAKU SIGAP).
Program ini memanfaatkan energi bersih dari PLTS untuk mendukung proses pengolahan sampah sekaligus menghasilkan berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Agustiawan mengatakan ketiga program tersebut menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat diterapkan secara berbeda sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat.
“Ketiga DEB ini memiliki karakteristik yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan energi bersih yang tidak berhenti pada penyediaan energi, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan kemandirian masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan DEB binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap juga menjadi bagian dari implementasi program Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS). Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Energy & Loss 2026 yang diarahkan pada peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat.















