Sementara itu, Herdian menyoroti aspek kesehatan mental melalui pendekatan berbasis komunitas. Ia menilai, mahasiswa yang memiliki growth mindset cenderung lebih adaptif menghadapi tekanan selama menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia menjelaskan bahwa dukungan sosial dan lingkungan yang positif menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan mental mahasiswa internasional.
Pendekatan ini dinilai relevan, mengingat mahasiswa di luar negeri kerap menghadapi tantangan ganda, baik dari sisi akademik maupun sosial.
Acara ini juga mendapat apresiasi dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Puspitasari, yang menegaskan komitmen KBRI dalam mendukung pengembangan kapasitas diaspora Indonesia.
Selain itu, perwakilan PCIM Tiongkok, Dienny Rahmani, menilai kolaborasi lintas organisasi menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang suportif bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sebagai ruang berbagi dan penguatan kapasitas mahasiswa, khususnya dalam menghadapi tantangan global,” ungkapnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif para mahasiswa. Diskusi yang berkembang tidak hanya membahas teori, tetapi juga pengalaman langsung selama menjalani studi di luar negeri.













