News  

Pantai Lembupurwo Kebumen Jadi Lokasi Konservasi, 100 Tukik Dilepas dan 1.000 Pohon Ditanam

Pantai Lembupurwo Kebumen menjadi lokasi aksi konservasi. Sebanyak 100 tukik dilepas dan 1.000 tanaman pesisir ditanam untuk menjaga ekosistem. Foto: Arbi Anugrah/MyInfo
banner 120x600

“Sebelum adanya hutan cemara ini, semua ini adalah hamparan pasir. Yang tidak ada tanaman rumput maupun tanaman yang lainnya, hanya pasir saja,” kata Munadi.

Kondisi tersebut membuat kawasan pantai terasa sangat panas, terutama ketika memasuki musim kemarau. Warga yang beraktivitas di sekitar pantai juga menghadapi kondisi lingkungan yang belum terlindungi vegetasi.

Upaya penghijauan kemudian mulai dilakukan bersama sejumlah pihak. Munadi menyebut kegiatan tersebut antara lain melibatkan masyarakat, KKN UGM, serta berbagai instansi yang kemudian ikut mendukung rehabilitasi kawasan pesisir.

“Dan Alhamdulillah ada keberhasilan, akan tetapi belum bisa optimal. Makanya dengan melalui tahapan-tahapan beberapa tahun kami lakukan rehabilitasi yang dibantu oleh KKN UGM, setiap tahunnya pasti ada kegiatan penanaman,” ujarnya.

Menurut Munadi, penghijauan di kawasan tersebut telah berlangsung sejak 2008. Sementara penanaman mangrove mulai dilakukan setelah adanya dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan.

Kini, kawasan konservasi mangrove di Lembupurwo mencapai sekitar 20 hektare, sedangkan area tanaman cemara mencapai 50 hektare.

KTH Cemara sendiri beranggotakan 15 orang. Dalam kegiatan penanaman berskala besar, kelompok tersebut juga melibatkan masyarakat sekitar agar pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama.

Munadi menjelaskan, keberadaan tanaman cemara memberikan manfaat besar bagi masyarakat pesisir. Selain membantu mengurangi abrasi, vegetasi tersebut berfungsi sebagai pelindung permukiman dari terpaan angin laut yang membawa kadar garam.

“Jadi tujuan kami itu selain melestarikan lingkungan, memang manfaat tanaman cemara itu bagi pantai sangat bermanfaat sekali. Satu untuk penanggulangan abrasi, yang kedua untuk penanggulangan angin yang membawa kadar garam, yang ketiga juga menahan puting beliung,” jelasnya.

Keberadaan hutan cemara juga disebut mampu mengurangi kecepatan angin sebelum mencapai permukiman.

“Jadi setelah adanya cemara ini, kecepatan angin yang ke permukiman sana jadi melambat. Sebelum ada cemara ini, sering ada angin puting beliung yang sampai ke permukiman,” katanya.

Manfaat penghijauan tidak hanya dirasakan untuk perlindungan kawasan pantai. Petani di sekitar Lembupurwo juga merasakan dampak positif dari keberadaan cemara dan mangrove.

Munadi menyebut terdapat sekitar 98 hektare lahan pertanian di sisi selatan Desa Lembupurwo yang berbatasan dengan kawasan pantai.

Tanaman cemara dan mangrove berfungsi seperti penyaring alami terhadap angin laut yang membawa kadar garam. Dengan begitu, paparan garam ke lahan pertanian dapat dikurangi.

“Jadi sangat bermanfaat bagi para petani terhadap tanaman itu sangat bermanfaat sekali. Dengan adanya filter kadar garam seperti pohon cemara ini maupun mangrove. Jadi garam yang terbawa angin ke darat itu tidak sampai ke tanaman petani, sehingga hasil produksi petani jadi meningkat,” kata Munadi.

Menurutnya, kondisi sebelum penghijauan cukup berbeda. Saat musim kemarau, tanaman pertanian lebih rentan mengalami kerusakan akibat terpaan angin laut dan kondisi lingkungan yang kering.

“Berbeda sebelum adanya tanaman ini, sebelum adanya tanaman mangrove maupun cemara ini. Sebelumnya itu kalau di musim kemarau pasti kering daunnya. Dan banyak gagal panen untuk tanaman palawija dan hortikultura,” ujarnya.

Selain rehabilitasi vegetasi, masyarakat Lembupurwo juga aktif menjaga habitat penyu. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah telur penyu diambil, diperjualbelikan, atau dikonsumsi.

Munadi mengatakan kelompoknya mulai mencatat kedatangan induk penyu yang bertelur di kawasan tersebut sejak akhir 2022.

“Sehubungan dengan konservasi penyu, yang kami amati dan yang kami jalankan, jadi dari tahun 2022 akhir, itu kami dapat 25 indukan yang mendarat dan bertelur, seperti itu, sampai sekarang. Jadi ada populasi yang meningkat, berbeda dengan sebelumnya,” kata Munadi.

Kegiatan konservasi penyu semakin aktif sejak 2023. Hingga kini, sekitar 1.500 tukik telah berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan ke laut.

Menurut Munadi, sebelum ada kegiatan konservasi, masyarakat hanya mengetahui keberadaan telur penyu dari informasi warga. Sebagian telur bahkan berpotensi diambil untuk dijual atau dikonsumsi.

“Karena kami sebelumnya di konservasi penyu itu kami hanya sebatas mendengar dari masyarakat, ada yang dapat telur, mereka jual, mereka konsumsi. Dengan adanya kegiatan kami di sini, kami untuk menanggulangi hal tersebut. Karena penyu itu hewan yang langka juga dilindungi,” ujarnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow