Agis mendapat informasi bahwa Arifin sempat membangunkan Windianto ketika kapal mulai miring. Namun, kondisi kapal yang semakin tidak stabil membuat Arifin memilih menyelamatkan diri.
“Suami berangkat berdua sama Arifin temannya, teman itu sempat bangunin kalau kapalnya miring. Sempat bangun, cuma temannya langsung pergi menyelamatkan diri karena kapalnya sudah miring,” ungkap Agis.
Windianto sebenarnya lebih sering menggunakan KM Dharma Rucitra saat bepergian ke Kalimantan. Menurut Agis, perjalanan menggunakan KM Virgo Transport 8 kali ini kemungkinan menjadi pengalaman pertamanya.
“Seringnya KM Dharma Rucitra. Kayane ini baru kali ini naik kapal Virgo,” ujarnya.
Tujuan Windianto dalam perjalanan tersebut adalah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan laut dari Surabaya biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 jam.
Agis mengatakan berdasarkan informasi yang diterima keluarga, kapal diperkirakan hanya berjarak sekitar lima jam dari Banjarmasin ketika kecelakaan terjadi.
“Tujuannya mau ke Banjarmasin, karena beda barang beda tempat. Dia itu kalau sudah di tengah-tengah laut tidak ada sinyal,” katanya.
Windianto dikenal selalu berpamitan sebelum berangkat bekerja. Ia juga biasanya menghubungi keluarga setelah sampai di tujuan.
“Mas Anto kalau sudah sampai pasti ngabarin,” ujarnya.
Namun kali ini, kabar tersebut belum juga datang. Agis bersama keluarga kemudian menggelar doa bersama pada Senin (14/9/2026) malam, berharap suaminya segera ditemukan.
Windianto dan Agis memiliki tiga anak. Kabar bahwa sang ayah belum ditemukan juga membuat anak-anak mereka menangis, terutama anak bungsunya.
“Anak itu sempat nangis-nangis juga waktu dengar bapak belum ketemu, anak yang paling kecil,” ucapnya.
Di tengah pencarian korban KM Virgo Transport 8, Agis hanya berharap satu hal: suaminya ditemukan dan kembali ke rumah dalam keadaan selamat.
“Kita berharap ada kabar baik, suami saya bisa pulang dengan selamat,” pungkasnya.














