Pembelajaran selama residensi juga diperkaya melalui kegiatan studi ekskursi. Peserta diajak bertemu pelaku seni tradisi dan komunitas budaya di Banyumas agar memperoleh pengalaman langsung mengenai hubungan antara kehidupan masyarakat dengan proses penciptaan karya sastra.
Asisten Maestro BBM Sastra 2026, Abdul Aziz Rasjid, mengatakan peserta telah berdialog dengan Narsih, tokoh seni lengger Banyumas yang telah mengabdikan diri di dunia tari tradisional selama 53 tahun.
Selain itu, peserta juga dijadwalkan berdiskusi mengenai tema “Alam dan Seni” bersama Sukendar, maestro calung penerima Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah 2025. Mereka akan mengunjungi komunitas seni di Banyumas dan mengikuti pemutaran film dokumenter Ahmad Tohari sebagai bagian dari pengayaan materi.
“Melalui studi eksksursi, peserta BBM bertemu dengan tokoh-tokoh seni di Banyumas, komunitas-lomunitas seni, memaknai kesenian khas di Banyumas, serta membangun jejaring seni lintas displin yang bisa jadi penting untuk pemajuan kebudayaan di kemudian hari,” kata Abdul Aziz Rasjid.
Menurutnya, pengalaman tersebut akan membantu peserta memahami bahwa sastra tidak lahir dari ruang kosong, melainkan tumbuh dari interaksi dengan masyarakat, budaya, dan lingkungan sekitar.
Salah seorang peserta, Hadi Rahman dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak hanya memperkaya kemampuan menulis, tetapi juga membuka cara pandang baru terhadap budaya lokal.
Ia melihat langsung kehidupan masyarakat di sekitar tempat tinggal Ahmad Tohari yang masih mempertahankan kesederhanaan, termasuk kebiasaan warga bersepeda dan kuatnya tradisi seni di Banyumas.
“Di lingkungan tempat Pak Ahmad Tohari tinggal saya masih banyak melihat warga yang bersepeda, suasananya bersahaja. Saya juga terkesan saat mendengar dan melihat secara langsung seni tradisi lengger. Di BBM ini, selain menulis cerpen, saya juga merekam hal-hal menarik dengan menggambar sketsa-skesta bermedia tinta di atas kertas. Semoga nanti bisa dipamerkan saat presentasi karya akhir,” kata Hadi.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi inspirasi yang memperkaya proses kreatifnya dalam menghasilkan karya sastra.
Sebagai penutup rangkaian BBM Sastra 2026, seluruh peserta akan mempresentasikan hasil karya mereka pada pertengahan Agustus 2026.
Agenda tersebut meliputi pameran arsip proses kreatif, dramatic reading karya peserta, hingga diskusi sastra yang membedah cerita pendek hasil residensi.















