JAKARTA, MyInfo.ID – Penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya menyangkut aspek ritual keagamaan, tetapi juga menjadi cerminan kehadiran negara dalam melayani warganya di Tanah Suci. Karena itu, setiap petugas haji diminta menjaga sikap, profesionalisme, dan integritas selama menjalankan tugas, mengingat mereka merupakan representasi resmi Indonesia di Arab Saudi.
Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan bahwa kualitas pelayanan petugas menjadi indikator nyata kehadiran negara dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan pembekalan dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (12/1/2026).
“Petugas haji harus memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah. Anda adalah wajah negara Indonesia di Arab Saudi. Seragam yang dikenakan dengan lambang Merah Putih harus dijaga kehormatannya. Jangan sampai membuat malu, justru tunjukkan bahwa Anda mampu melayani dengan sebaik-baiknya,” tegas Chandra dalam keterangannya dikutip Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, seragam petugas bukan sekadar atribut, melainkan identitas resmi yang mencerminkan martabat negara. Karena itu, penggunaannya harus sesuai aturan dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Seragam hanya boleh dilepas saat beristirahat di dalam kamar. Di luar itu, seragam harus tetap dikenakan,” ujarnya.
Kuasai Wilayah dan Bangun Kerja Tim
Dalam menjalankan tugas di Tanah Suci, Chandra menekankan pentingnya penguasaan wilayah kerja. Petugas diminta memahami secara menyeluruh area penugasan, baik di Daerah Kerja (Daker) Makkah, Madinah, Bandara, maupun sektor layanan lainnya.
Selain kesiapan lokasi, petugas juga diwajibkan hadir lebih awal sebelum kedatangan jemaah agar pelayanan dapat berjalan optimal.
“Petugas tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Kekompakan adalah kunci. Kelancaran tugas sangat ditentukan oleh komunikasi dan koordinasi, baik antar sektor maupun antar daerah kerja,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh peserta diklat merupakan sumber daya manusia terpilih yang telah melewati proses seleksi ketat. Tanggung jawab yang diemban pun tidak ringan, mengingat jumlah jemaah haji Indonesia yang harus dilayani mencapai ratusan ribu orang.
“Anda adalah orang-orang terpilih. Tidak mudah merekrut petugas dari ribuan pendaftar untuk melayani sekitar 221.000 jemaah haji Indonesia,” tambahnya.













