CILACAP, MyInfo.ID – Pemahaman masyarakat mengenai kental manis sebagai susu untuk anak kembali menjadi perhatian. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bersama Yayasan Abhipraya Insan Candekia Indonesia (YAICI) menggelar edukasi untuk meluruskan persepsi tersebut, terutama kepada orang tua yang memiliki balita.
Kegiatan talkshow dan sosialisasi berlangsung di Gedung Muslimat NU Cilacap, Kamis (17/9/2026). Edukasi juga melibatkan jaringan kader Muslimat NU yang tersebar hingga tingkat masyarakat.
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Pusat, dr. Erna Yulia Sofihar, mengatakan masih ditemukan anggapan bahwa kental manis merupakan produk susu yang dapat diberikan kepada anak.
“Karena selama ini sudah ada kesalahan persepsi dari masyarakat bahwa kental manis itu dianggapnya susu, kadang-kadang juga dijadikan pengganti ASI dan itu sudah berlangsung hampir satu abad,” kata Erna kepada wartawan di Gedung Muslimat NU Cilacap, Kamis (17/9/2026).
Kental Manis Bukan Pengganti ASI
Erna mengatakan pemahaman tersebut perlu diluruskan karena menurutnya kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi. Ia menilai produk tersebut tidak semestinya ditempatkan sebagai pengganti ASI maupun minuman utama bagi anak.
“Mereka menganggap itu adalah susu yang memang bisa dikonsumsi untuk anak-anak, padahal itu adalah gula, kandungannya sama dengan gula,” ucapnya.
Menurut Erna, pola konsumsi makanan dan minuman manis juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak. Ia mengingatkan kebiasaan mengonsumsi makanan manis dapat memengaruhi pola makan anak.
“Karena seorang anak yang sudah diberikan makanan yang manis-manis, pasti dia tidak akan mengkonsumsi makanan yang lain, sehingga otomatis gizinya akan berkurang,” ujarnya.
Edukasi Kental Manis Menyasar Orang Tua Balita
Muslimat NU memanfaatkan jaringan kader hingga tingkat grassroots untuk menyebarkan informasi mengenai gizi dan penggunaan kental manis.
“Hal itulah yang ingin kami ingin sampaikan ke masyarakat, Karena di Muslimat NU punya perwakilan sampai tingkat grassroots. Jadi insya Allah edukasi atau muatan-muatan materi yang disampaikan pada kegiatan ini bisa sampai ke sasaran terutama ibu-ibu yang punya balita,” jelasnya.
Menurut Erna, edukasi tidak hanya dilakukan di daerah dengan persoalan stunting tinggi. Cilacap menjadi salah satu lokasi untuk melihat pemahaman masyarakat mengenai kental manis, meskipun angka stunting di daerah tersebut disebut berada di bawah rata-rata provinsi.
“Jadi tidak hanya yang gizinya kurang, maksudnya masyarakat yang pengetahuan terkait gizinya kurang seperti di daerah Indonesia Timur kita juga turun,” ucapnya.
Ia menambahkan, kader Muslimat NU memiliki peran dalam penyampaian informasi kesehatan karena banyak pengurus yang juga aktif sebagai ustazah dan pengelola majelis taklim.















