JAKARTA, MyInfo.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai solusi bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) agar tetap memperoleh akses pendidikan yang berkualitas. Hingga Juli 2026, sebanyak lebih dari 700 ATS telah terverifikasi dan siap mengikuti proses pembelajaran melalui program tersebut.
Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk menekan angka anak putus sekolah sekaligus memastikan hak setiap anak Indonesia terhadap pendidikan tetap terpenuhi, meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq di Jakarta, Kamis (30/7), mengatakan penyelenggaraan PJJ merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak yang sebelumnya belum dapat mengakses pendidikan formal.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya menunggu peserta didik datang ke sekolah, tetapi aktif menghadirkan layanan pendidikan kepada mereka yang membutuhkan.
“PJJ adalah bentuk jawaban dari doa dan harapan, PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. PJJ ini adalah bentuk negara menjemput bola, tidak hanya sekadar hadir tapi negara menjemput bola,” ujar Wamen Fajar dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Fajar menegaskan, keberhasilan mengembalikan anak-anak ke dunia pendidikan tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan PJJ telah memiliki dasar hukum melalui Permendikbud Nomor 119 Tahun 2014. Saat ini pemerintah juga terus menyempurnakan tata kelola dan sistem penjaminan mutu agar kualitas pembelajaran semakin baik.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa PJJ dirancang khusus untuk menjangkau peserta didik yang tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran reguler.
Untuk menjaga mutu program, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Universitas Terbuka serta SEAMEO SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre) dalam pengembangan sistem pembelajaran dan penjaminan kualitas pendidikan.
Proses belajar dilakukan melalui kombinasi pembelajaran sinkron dan asinkron, didukung modul cetak maupun digital, dengan pendampingan sekolah induk dan sekolah mitra.
“Kami berupaya untuk menjangkau lebih luas lagi sehingga anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan bisa kembali belajar melalui PJJ. Sekolah yang menjadi induk merupakan sekolah dengan akreditasi A,” ujar Tatang.
Kemendikdasmen mencatat telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 calon peserta PJJ dari berbagai daerah.














