Setelah proses verifikasi dilakukan, sekitar 700 anak dipastikan masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) dan memenuhi syarat mengikuti program.
Pemerintah menargetkan jumlah peserta akan terus bertambah melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, serta berbagai mitra pendidikan.
Program PJJ juga membawa harapan baru bagi Bagas William, salah satu peserta yang sempat berhenti sekolah selama dua tahun akibat kecelakaan yang mengharuskannya menjalani operasi dan masa pemulihan.
Meski sempat kehilangan kesempatan belajar, Bagas tetap menyimpan impian untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya.
“Saya mengikuti PJJ karena untuk mendapatkan pendidikan dan mencapai cita-cita menjadi wirausaha dengan berjualan online,” ujar Bagas.
Kehadiran PJJ juga mendapat sambutan positif dari orang tua peserta didik.
Aas, ibu Bagas, mengaku sempat khawatir putranya tidak lagi memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan setelah dua tahun berhenti sekolah.
“Selama dua tahun itu anak saya tidak sekolah karena fokus untuk penyembuhan dan pemulihan. Terus saya berpikir, gimana ya anak saya belum sekolah. Sampai harus putus sekolah. Gimana nanti melanjutkan sekolahnya. Nah, saya senang sekali ada PJJ ini untuk membantu anak saya bisa tetap melanjutkan sekolah, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Menutup kegiatan tersebut, Wamen Fajar menegaskan bahwa pengembangan Pendidikan Jarak Jauh merupakan bagian dari komitmen pemerintah membangun sistem pendidikan yang inklusif dan adaptif bagi seluruh anak Indonesia.
Melalui program ini, pemerintah berharap tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan kondisi ekonomi, kesehatan, maupun faktor lainnya.
“Kita ingin membangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif, yang adaptif. Ujung dari proses ini adalah kita ingin bangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif yang adaptif sehingga no child left behind,” pungkasnya.














