News  

Musim Kemarau Memuncak, Karhutla di Jawa Tengah Meningkat, Banyumas Bergerak Cepat Padamkan Api

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Poda Jateng
banner 120x600

BANYUMAS, MyInfo.ID – Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Jawa Tengah semakin meningkat. Salah satu peristiwa terbaru terjadi di kawasan hutan Perhutani Banyumas Barat, Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Kamis (30/7/2026).

Berkat respons cepat jajaran Polsek Ajibarang Polresta Banyumas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kobaran api berhasil dipadamkan sebelum meluas ke kawasan hutan lainnya.

Api berhasil dikendalikan sekitar pukul 14.02 WIB. Kecepatan penanganan tersebut dinilai mampu meminimalkan kerusakan lingkungan sekaligus mencegah meluasnya kebakaran di kawasan Perhutani.

Bukan hanya Banyumas, dalam sepekan terakhir kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah, seperti Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Pati, dan Grobogan.

Meski seluruh kejadian berhasil ditangani petugas gabungan, rangkaian peristiwa tersebut menjadi sinyal meningkatnya risiko karhutla selama musim kemarau.

Ilustrasi Petugas kepolisian berupaya Memadamkan kebakaran Hutan dan Lahan. Foto: Polda Jawa Tengah

Di Kabupaten Wonogiri, misalnya, kebakaran hutan rakyat terjadi pada 22 Juli 2026 di Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo. Berkat kolaborasi Polri, TNI, BPBD, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat, api berhasil dipadamkan sebelum menjalar lebih luas.

Sementara itu, di Sukoharjo dan Grobogan, petugas gabungan juga bergerak cepat melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah titik sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar.

Berbeda dengan daerah lain, Polresta Pati lebih banyak menangani titik panas (hotspot) yang terpantau melalui citra satelit NASA dan aplikasi Sipongi pada 29-30 Juli 2026.

Hotspot tersebut tersebar di wilayah Kayen, Sukolilo, Pucakwangi, dan Wedarijaksa.

Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan sebagian besar titik panas berasal dari aktivitas pembakaran sisa hasil pertanian, seperti daun tebu, batang jagung, janggel jagung, hingga semak belukar yang sudah padam.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow