News  

Indonesia Siapkan 20 Kompetitor untuk WorldSkills Competition 2026 di Shanghai

Kompetitor Indonesia menjalani persiapan menghadapi WorldSkills Competition 2026 di Shanghai, China. Foto: Kemendikdasmen
banner 120x600

Bagi Dewangga, pengalaman mengikuti WSC juga menjadi kesempatan untuk meneruskan keterampilan kepada peserta didik berikutnya. Setelah kompetisi, ia berencana kembali ke sekolah dan membagikan pengetahuan yang diperoleh selama pembinaan.

“Saya mengharapkan ada junior yang meneruskan bakat-bakat saya di bidang auto body repair terutama, dan skill-skill yang saya miliki bisa diasah oleh adik-adik kelas selanjutnya,” tuturnya.

Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam persiapan WSC 2026, terutama pada bidang Robot Systems Integration.

Eksper bidang tersebut, Reza Pahlevi, mengatakan tim yang didampinginya merupakan juara pertama ASEAN Skills 2025 di Filipina. Menjelang WSC, tim menjalani pelatihan sekitar tiga hingga empat bulan di training center industry.

Menurut Reza, Robot Systems Integration berkaitan erat dengan kebutuhan teknologi industri yang terus berkembang. Kemajuan robotik dan kecerdasan artifisial atau AI membuat peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan penting bagi talenta vokasi.

“Kalau kita tidak meng-upskilling, tidak me-reskilling kita, kita akan ketinggalan zaman, ketinggalan teknologi yang nantinya akan diambil oleh AI dan robotik yang ada di dunia. Jadi, kita harus persiapkan ke era baru yaitu robotik dan AI,” ujarnya.

Tim tetap menjalani latihan meski terdapat keterbatasan dalam penggunaan peralatan yang sama persis dengan perangkat yang akan digunakan dalam kompetisi.

“Targetnya di WorldSkills 2026 ini, tetap kita optimistis kita bisa bawa pulang emas pertama untuk Indonesia tahun ini di bidang Robot Systems Integration,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq meminta kontingen Indonesia memberikan kemampuan terbaik selama mengikuti WSC 2026.

Menurut Fajar, pengalaman yang diperoleh peserta selama proses pembinaan dan kompetisi juga penting untuk dibawa kembali ke tanah air.

“Juara itu bukan semata-mata kita ranking 1, ranking 2, atau ranking 3, ataupun tidak semata-mata kita meraih medali atau tidak, tetapi itu juara menyangkut soal mentalitas, menyangkut soal cara pandang hidup,” ujarnya.

Ia meminta para kompetitor membagikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Shanghai kepada lingkungan pendidikan dan vokasi di Indonesia.

“Apa pun hasilnya, pulanglah kembali ke tanah air dengan kebanggaan, dengan tanggung jawab bahwa apa yang telah dicapai di Shanghai, apa yang telah dilihat dan dipelajari di Shanghai itu perlu ditularkan, disebarkan di Indonesia, terutama di komunitas masing-masing,” pungkasnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow