Data yang terkumpul dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat perkembangan pemanfaatan teknologi. Sistem ini sekaligus mendorong masyarakat mulai terbiasa melakukan pencatatan penggunaan teknologi secara lebih teratur.
Wildan menilai aspek monitoring penting untuk menjaga keberlanjutan program. Sebab, tantangan teknologi tepat guna bukan hanya bagaimana alat dibuat, tetapi bagaimana alat tersebut tetap berfungsi dan dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
Penerapan teknologi pengelolaan sampah tersebut mendapat respons positif dari masyarakat Purbalingga Lor.
Ketua RT 03 RW 04, Kuswanto, menilai keberadaan fasilitas tersebut dapat membantu warga menangani persoalan sampah. Ia juga menyoroti kemudahan penggunaan karena perangkat telah dilengkapi sistem digital.
“Adanya tempat sampah ini sangat membantu sekali. Proses penggunaannya juga sangat mudah. Apalagi sudah dilengkapi dengan sistem digital, sehingga memudahkan siapa saja untuk menggunakannya,” ungkap Kuswanto.
Menurut Kuswanto, keberadaan panduan digital menjadi salah satu keunggulan. Warga dapat kembali mengakses informasi ketika membutuhkan petunjuk mengenai penggunaan alat.
Program di Purbalingga Lor tersebut menjadi salah satu bentuk upaya UMP membawa hasil pengembangan ilmu pengetahuan agar dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Tim tidak hanya menggabungkan aspek keteknikan dalam pembuatan tabung pembakaran. Unsur digitalisasi, pelatihan, monitoring, dan penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian dari program.
Pendekatan tersebut membuat warga ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima teknologi. Mereka diarahkan agar mampu mengoperasikan, merawat, mencatat penggunaan, sekaligus mengevaluasi pemanfaatan alat secara mandiri.
Model pemberdayaan seperti ini dinilai penting agar teknologi yang diberikan tidak hanya digunakan selama program berlangsung, tetapi memiliki peluang untuk terus dimanfaatkan setelah pendampingan selesai.
Program pengabdian UMP tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs).
Di antaranya SDG 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim.
Dukungan terhadap target tersebut diwujudkan melalui penguatan pengelolaan sampah, penerapan teknologi tepat guna, peningkatan kemampuan masyarakat, dan pemanfaatan sistem digital untuk monitoring.
Melalui program hibah BIMA ini, UMP berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus menjadi contoh kolaborasi antara teknologi, digitalisasi, dan pemberdayaan warga.
Dari Purbalingga Lor, teknologi berbahan sederhana itu menjadi gambaran bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan lingkungan secara langsung. Bukan sekadar menghadirkan alat, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar teknologi dapat digunakan dan dikelola secara berkelanjutan.















