MPLS Sekolah Rakyat juga menghadirkan kisah haru dari para peserta didik yang akhirnya kembali memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan.
Salah satunya adalah Ade Kirana, siswa baru kelas VIII SMP asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon. Ia mengaku bersyukur dapat diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas.
Ade mengatakan dirinya terkesan dengan fasilitas sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar sekaligus tinggal di asrama.
“Senang, kagum juga karena gedungnya,” ungkapnya.
Meski kedua orang tuanya tidak dapat mengantar karena sedang bekerja di luar kota, Ade tetap bersemangat mengikuti hari pertama MPLS. Namun, ia mengaku masih memiliki kekhawatiran untuk beradaptasi di lingkungan asrama karena pernah mengalami perundungan saat duduk di bangku sekolah dasar.
“Aku sih enggak deg-degan, tapi takut dibully di asrama. Dulu waktu kelas lima pernah dibully, jadi takut kalau di sini mengalami hal yang sama lagi,” ungkapnya.
Harapan besar juga datang dari keluarga peserta didik lainnya. Wartiah, salah seorang wali siswa, mengaku terharu karena cucunya akhirnya bisa kembali bersekolah setelah sempat putus sekolah selama lebih dari tiga tahun.
“Cucu saya putus sekolah sejak kelas 3 SD,” tuturnya.
Menurut Wartiah, cucunya selama ini memiliki sifat pendiam dan kurang percaya diri dalam bergaul. Berkat pendampingan dan motivasi yang diberikan berbagai pihak, sang cucu akhirnya bersedia melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.
“Alhamdulillah sekarang mau sekolah lagi. Waktu diberi motivasi, dia bilang, ‘Iya, aku mau berubah, mau jadi anak yang lebih baik’,” tutur Wartiah menirukan ucapan cucunya.















