Meutya juga menegaskan bahwa Piala Dunia bukan sekadar soal siapa yang keluar sebagai juara, melainkan tentang nilai sportivitas, kerja keras, dan semangat persatuan.
“Dalam sebuah pertandingan yang paling utama adalah sportivitas. Dalam sebuah pertandingan yang dinilai adalah ikhtiarnya. Menang kalah bukan berarti pasti yang paling baik saja. Bisa jadi tahun ini yang menang satu negara, berikutnya negara lainnya,” ujarnya.
Momentum Piala Dunia 2026 juga menjadi catatan penting bagi dunia penyiaran nasional. Setelah lebih dari dua dekade, TVRI kembali dipercaya sebagai official broadcaster ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
“Untuk teman-teman TVRI, ini sejarah. Karena terakhir TVRI menjadi official broadcaster itu 24 tahun lalu. Jadi setelah 24 tahun, baru kali ini kembali ke titik kebanggaan kita TVRI,” kata Meutya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan masyarakat kini tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menyaksikan pertandingan.
“Biasanya nonton Piala Dunia itu bayar karena TV swasta yang membayar hak siarnya. Alhamdulillah tahun ini pemerintah melalui TVRI yang mengeluarkan anggarannya agar seluruh rakyat Indonesia bisa menikmati Piala Dunia tanpa harus bayar lagi, tanpa harus sewa dekoder dan lain-lainnya,” ujar Edwin.
Ia menambahkan, kegiatan nonton bareng final Piala Dunia 2026 diselenggarakan di lebih dari 60 lokasi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Medan, Solo, Serang, Bukittinggi, Bali, hingga Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat menikmati pesta sepak bola dunia secara lebih merata dan inklusif.















