Techno  

Pemerintah Batasi Akses AI dan Media Sosial bagi Anak, DPR: Lindungi Generasi Muda di Era Digital

Ilustrasi Kederdasan Buatan. Foto: Freepik

Sementara itu, penelitian Common Sense Media mencatat anak usia 8–12 tahun rata-rata menghabiskan sekitar lima jam per hari di depan layar digital.

Menurut Atalia, kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi negara untuk menghadirkan regulasi yang melindungi anak dari risiko digital.

“Paparan digital yang terlalu dini dapat berdampak pada kesehatan mental, pola tidur, kemampuan konsentrasi, bahkan relasi sosial anak. Karena itu negara perlu hadir untuk memastikan ruang digital tetap aman bagi mereka,” kata Atalia.

Meski demikian, Atalia menilai regulasi pemerintah tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan keluarga dan lembaga pendidikan.

Orang tua dan guru tetap memegang peran penting dalam mendampingi anak ketika berinteraksi dengan teknologi digital.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat literasi digital sejak dini agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak saat mereka sudah cukup umur.

“Tujuan dari kebijakan ini bukan melarang teknologi, tetapi memastikan anak-anak kita siap secara mental, intelektual, dan sosial sebelum benar-benar terjun ke dunia digital yang kompleks,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, Atalia mendorong sejumlah strategi agar kebijakan ini berjalan efektif. Di antaranya adalah penguatan literasi digital nasional bagi orang tua, guru, dan siswa agar mampu memahami manfaat sekaligus risiko teknologi.

Selain itu, ia juga mengusulkan pengembangan kurikulum kecerdasan buatan (AI) secara bertahap sehingga pelajar dapat mengenal teknologi tersebut secara edukatif dan bertanggung jawab sesuai usia mereka.

Pemerintah juga didorong menyediakan platform edukasi digital yang ramah anak, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan perusahaan platform digital untuk menjaga keamanan data dan perlindungan anak di ruang digital.

Menurut Atalia, Indonesia harus mampu memanfaatkan perkembangan Kecerdasan Buatan untuk kemajuan pendidikan, tetapi tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan etika.

“Teknologi harus memperkuat kecerdasan manusia, bukan menggantikannya. Anak-anak kita harus tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, bukan sekadar generasi yang bergantung pada teknologi,” tutup Atalia.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow