“Artinya kita sebagai pembina ini benar-benar memperhatikan para atlet seutuhnya, bukan saat mereka berjaya saja. Bapak Presiden juga meminta saya mempelajari bagaimana nanti dana pensiun atlet yang kita sedang godok. Nah ini yang saya ingin lakukan bersama-sama tim saya, Pak Wamenpora, benar-benar mentransformasi supaya ini tidak hanya sebatas persiapan, tetapi juga pasca dari pertandingan itu sendiri,” imbuh Menpora.
Terkait apresiasi berupa bonus bagi atlet ASEAN Para Games 2025, Erick Thohir menyampaikan pihaknya telah mengajukan usulan dan masih menunggu keputusan Presiden. Harapannya, besaran bonus setara dengan yang diterima atlet SEA Games, sesuai dengan skema yang selama ini diterapkan.
Namun, Menpora menegaskan bahwa bonus semata tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan atlet di masa depan. Oleh karena itu, Kemenpora juga menginisiasi program literasi finansial agar atlet mampu mengelola pendapatan dengan bijak dan berkelanjutan.
“Tetapi bonus saja tidak cukup. Kemarin kami membuat program yang namanya literasi finasial, supaya bonus-bonus yang didapatkan itu benar-benar bermanfaat untuk masa depan,” ujarnya.
Bukan cuma bonus yang dipakai untuk keseharian, tetapi untuk masa depan. Program – program seperti inilah yang akan disinergikan salah satunya dengan NPC, dengan tokoh-tokoh yang peduli olahraga.
“Saya berharap tentu dengan segala kerendahan hati, kita konsolidasi untuk prestasi Indonesia, hari ini dan yang masa datang,” tegas Menpora Erick.













