News  

Menata Mutu, Menjaga Negeri: Catatan BSN Sepanjang 2025

BSN menegaskan bahwa standar bukan sekadar aturan teknis, melainkan instrumen perlindungan publik sekaligus penggerak ekonomi nasional. Foto: BSN

Untuk memperluas dampak, BSN juga menggelar Bootcamp SNI Bina UMK secara daring selama satu bulan, yang diikuti lebih dari 1.000 UMK dari berbagai daerah, melalui kolaborasi dengan 18 kementerian, lembaga, BUMN, dan institusi terkait.

Peran BSN tidak berhenti di dalam negeri. Di tingkat internasional, BSN aktif memperjuangkan kepentingan nasional melalui forum Technical Barriers to Trade–World Trade Organization (TBT-WTO). Upaya ini penting untuk mengurangi hambatan teknis perdagangan dan meningkatkan keberterimaan produk Indonesia di pasar ekspor.

Selain itu, kerja sama bilateral dengan Arab Saudi difokuskan pada perluasan akses produk Indonesia di Timur Tengah, sementara sinergi dengan China diarahkan untuk memastikan produk impor yang masuk ke Indonesia memenuhi standar nasional.

Menariknya, pengembangan SNI yang mengadopsi standar internasional juga memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Sepanjang 2025, pembelian tujuh SNI adopsi internasional paling banyak digunakan menghasilkan penghematan biaya hingga Rp 3,7 miliar.

“Dari pembelian 7 SNI yang mengadopsi internasional terbanyak sepanjang tahun 2025, masyarakat memperoleh penghematan biaya sebesar Rp 3,7 miliar dibandingkan jika membeli standar internasional secara langsung,” ungkap Kristianto.

SNI tersebut mencakup sistem manajemen penting seperti keamanan informasi, mutu, lingkungan, K3, hingga kelangsungan usaha.

Di sisi lain, BSN melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah mengakreditasi 644 lembaga penilaian kesesuaian. Sementara di bidang metrologi, BSN memperoleh sembilan pengakuan internasional baru atas kemampuan pengukuran dan kalibrasi, sehingga total pengakuan internasional mencapai 164 lingkup hingga akhir 2025.

Meski jarang disorot, aspek ini menjadi fondasi kepercayaan dalam perdagangan dan industri.

Memasuki 2026, BSN menegaskan komitmennya mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam peningkatan daya saing dan perlindungan masyarakat. Fokus kebijakan diarahkan pada pengendalian mutu barang beredar, perluasan pengakuan internasional, serta penguatan peran pihak ketiga.

BSN juga berkontribusi dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) melalui penguatan standar di sektor pangan, kesehatan, pertanian, perumahan, pendidikan, hingga energi. Sejumlah SNI prioritas antara lain tuna ground meat beku, produk katering, ikan patin, susu bubuk kambing, sistem pembangkit energi angin, instalasi nuklir, hingga kelurahan tangguh bencana.

“Ke depan, standardisasi tidak hanya menjadi instrumen teknis, tetapi juga fondasi perlindungan masyarakat dan penguatan kedaulatan ekonomi nasional. Dengan arah kebijakan tersebut, kami berharap BSN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan Indonesia,” tegas Kristianto.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow